Lakukan Penggelapan Terdakwa Martinus Terancam Hukuman Penjara 5 Tahun

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Doni Boy Faisal Panjaitan, SH dari Kejari Jakarta Utara, kembali mengahadirkan Terdakwa Martinus kepersidangan Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa, (9/7/2024).

JPU Doni Boy menghadapkan terdakwa Martinus kehadapan Ketua Majelis Hakim R Rudi Kindarto SH, dengan Hakim Anggota, Maryono, SH dan Erly S, dengan agenda pemeriksan saksi Pelapor, Antony Tamren dan Agus Rusli.

Dihadapan hakim, JPU dan Penasehat Hukum terdakwa, Saksi Antony Tamren mengatakan bahwa Terdakwa Martinus telah mengelapkan uang perusahaan lebih dari Rp5,3 miliar sejak bergabung dalam usaha penjualan bahan kimia di CV Nuansa Cemerlang Abadi dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2019.

Antony Temren dalam keterangannya mengatakan Martinus diperkenalkan Saksi Johan kepadanya pada bulan Juni 2015.
Martinus diketahui sebagai pedagang bahan kimia yang membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya.

Dari perkenalan tersebut Antony Tamren bersedia sebagai pemodal dalam usaha bisnis bahan kimia tersebut dan mendirikan CV Nuansa Cemerlang Abadi, dan Martinus selaku Direktur pemasaran sehingga Antony Tamren mulai bekerja-sama dengan Terdakwa Martinus di bulan Juli 2015, dengan Abadi100 % dari Antony Tamren.

Dalam perjalanan bisnisnya CV Nuansa Cemerlang Abadi dikendalikan Martinus mengirimkan Whatsapp kepada Antony, bahwa ada PO (Purchase Order) dari suatu customer. Di dalam WA Martinus merinci harga penjualan dan pembelian untuk setiap item barang.

Demikian juga tertera nilai yang harus ditransfer ke supplier yang ditunjuk oleh Martinus. Barang yang dipesan diambil oleh Martinus dan langsung dikirimkan ke Customer. Barang tersebut tidak pernah masuk ke gudang CV Nuansa Cemerlang Abadi.

Saksi Antony Tamren mengatakn bahwa sejak tahun 2015, Terdakwa Martinus telah melaporkan penjualan fiktif dari 8 customer, antaralain, 1. Cahaya Mandiri Baru, 2. PT. Daun Semanggi Sejati, 3. PT Detindo, 4. Multi Garmen Abadi, 5. Ibu Patrisia, 6. Pramesti Laundry, 7. PT. Shunda Plafon, dan 8. Sumber Jaya Laundry.

Laporan pembelian fiktif dari 3 supplier, yakni, 1. PT. Suentio Perkasa (Khaerudin sebagai pemilik), 2. UD Sinar Surya Utama (Sulaiman sebagai pemilik), 3. UD Cahaya Terang Abadi (Edy Widjaja sebagai pemilik).

Karena penjualan kepada 8 customer (fiktif) tersebut di atas semakin besar, sejak awal tahun 2017, Antony telah meminta Martinus untuk mempertemukan Antony kepada 8 customer (fiktif) tersebut, dan juga meminta Martinus untuk mempertemukan Antony kepada 3 supplier (fiktif) tersebut di atas, tetapi tidak dipertemukan dengan berbagai macam alasan yang tidak jelas.

Agus Rusli, selaku staff akuntan CV Nuansa Cemerlang Abadi juga dipanggil sebagai saksi pada hari itu, dimana Tugas Agus Rusli mencatat setiap pembelian, penjualan, penerimaan pembayaran dari customer dan pembayaran ke supplier.

Agus Rusli memberikan laporkan keuangan termasuk daftar piutang customer ke Antony, dan Martinus secara berkala. Pencatatan invoice dan surat jalan untuk customer adalah atas instruksi dari Martinus dimana invoice diberikan kepada Martinus untuk diberikan kepada Customer. Setiap invoice dan surat jalan tertera tanda tangan Martinus.

Demikiana juga setiap invoice pembelian dari supplier fiktif diberikan oleh Martinus kepada Agus untuk dicatat.
Di bulan Januari 2019 jumlah piutang belum tertagih yang dilaporkan Agus Rusli kepada Antony sudah mencapai 6 Milyar. Dari laporan Agus tersebut Antony mulai curiga dan ingin bertemu langsung dengan customer untuk melakukan penagihan.

Akhirnya Martinus, memperkenalkan Antony kepada antara lain:
1. Saksi Edy, sebagai pemilik UD. Cahaya Terang Abadi. Belakangan, diketahui bahwa, yang dipertemukan kepada Antony adalah bernama Djep Heng Tong alias Hendra.

2. Kepada Hermanto, sebagai pemilik Cahaya Mandiri Baru. Ketika Antony bertemu dengan Saksi Hermanto, Antony memberikan daftar piutang dagang CV Nuansa Cemerlang Abadi kepadanya yang pada saat itu sebesar Rp822 juta.

Hermanto meminta diberikan waktu untuk melunasi bon yang telah jatuh tempo.
Namun Belakangan diketahui, bahwa saksi Hermanto hanya berhutang sebesar 12 juta dan tidak pernah melakukan pembelian sebesar seperti yang tertera di invoice yang dilaporkan kepada Antony.

3. Jose Schend Gunaya Lie, sebagai seorang calo yang menjual bahan kimia dari dari CV Nuansa Cemerlang Abadi kepada PT Shunda Plafon. Kepada Jose, Antony berikan daftar piutang yang berjumlah 738 juta. Dan saksi Jose melihat daftar tersebut dan meminta kelonggaran waktu untuk pembayaran invoice yang telah jatuh tempo.
Bahwa belakangan diketahui saksi Jose adalah tunangan dari Meiliana, adik ipar terdakwa Martinus.

4. Saksi Meiliana, yang bekerja di PT Daun Semanggi. G Meiliana adalah adik ipar dari terdakwa Martinus, dimana Antony diinfokan bahwa Saksi Meiliana adalah orang kepercayaan pemilik PT. Daun Semanggi, sehingga permintaan pembelian dan pembayaran bahan kimia dilakukan melalui Saksi Meiliana. Pembayaran bahan kimia kepada Antony di transfer langsung dari rekening BCA oleh Meiliana.

Pada pertemuaan tersebut, Antony memberikan daftar piutang sebesar Rp809 juta. Saksi Meiliana meminta kelonggaran waktu untuk membayar invoice yang telah jatuh tempo. Sejak pertemuan ini, Saksi Meiliana menghubungi Antony langsung via Whatapps, bila pembayaran telah dilakukan, dan memohon pengiriman barang berikutnya. Pada kenyataaan PT. Daun Semanggi tidak pernah melakukan pembelian sesuai dengan bahan yang tertera di invoice Antony.

Pada awal bulan Maret 2019, Antony meminta pertanggung-jawaban Martinus atas piutang yang tak tertagih karena sudah jatuh tempo lebih dari 90 hari. Akhirnya secara lisan Martinus mengakui bahwa dia meminjam rekening-rekening bank dari berbagai orang, dan membohongi Antony dengan mengatakan bahwa orang orang tersebut adalah customer/supplier Antony.

Berikut adalah daftar nama-nama dari rekening yang digunakan:
1. Johan dan Lisda sebagai orang yang melakukan transfer dari Cahaya Mandiri Baru,

2. Meiliana sebagai orang yang mentransfer pembayaran dari PT Daun Semanggi

3. Iwan sebagai orang yang mentransfer pembayaran dari PT Shunda Plafon

4. Sugiarto sebagai orang yang mentransfer pembayaran dari Sumber Jaya Laundry

5. Yuliana (yang belakangan Antony tahu ada istri terdakwa Martinus) yang mentransfer pembayaran dari Multi Garmen Abadi.

6. Ong Tery sebagai orang yang mentransfer pembayaran dari PT Detindo dan Ibu Patrisia.

7. Jimmy dan Indra Lesmana, sebagai orang yang mentransfer pembayaran dari Pramesti Laundry.

8. Khaerudin, sebagai pemilik PT. Suentio Perkasa, supplier (Antony melakukan transfer dari rekening Antony kepada rekening Khaerudin hampir setiap hari kerja atas permintaan pembelian bahan Terdakwa Martinus)

9. Edy Widjaja, sebagai pemilik UD Cahaya Terang Abadi, supplier (Antony melakukan transfer dari rekening Antony kepada rekening Khaerudin hampir setiap hari kerja atas permintaan pembelian bahan Terdakwa Martinus)

10. Sulaiman, sebagai pemilik UD Sinar Surya Utama, supplier (Antony melakukan transfer dari rekening Antony kepada rekening Sulaiman hampir setiap hari kerja atas permintaan pembelian bahan Tedakwa Martinus)

Pada tanggal 6 Maret 2019, Martinus menandatangani surat pernyataan yang intinya menyatakan bahwa piutang dagang sebesar 6M yang tercantum atas 8 customer fiktif, tidak sebesar yang dicantumkan atau tidak ada.

Bahwa kerugian yang dialami Saksi ANTONY TAMREN selaku pemilik modal sebesar Rp.5.301.565.095 (Lima Milyar Tiga Ratus Satu Juta Lima Ratus Enam Puluh Lima Ribu Sembilan Puluh Lima Rupiah) yang dimana kerugian tersebut adalah sesuai perhitungan harga pokok pembelian (HPP) modal yang Saksi ANTONY TAMREN keluarkan periode bulan November 2018 sampai dengan Maret 2019.

Oleh karena itu, JPU Doni Boy mendakwa terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 374 KUHP Jo asal 64 ayat (1) KUHP,

Usai persidangan kepada wartawan Saksi Antony Tamren berharap Jaksa Penuntut Umum (JPU) Doni Boy Faisal Panjaitan SH dan Majelis Hakim agar dengan sungguh-sungguh mewakili dirinya dalam menuntut dan mengadili Terdakwa Martinus yang telah membuat dirinya bangkrut.

Sementara itu, Kuasa hukum Pelapor Friska Gultom dan Rido TH Pakpahan SH dari Kantor Hukum “FRISKA GULTOM & PARTNERS” mengatakan bahwa sebelum melakukan laporan ke Polda Metro Jaya, Anton Temren telah melayangkan surat somasi sebanyak dua kali, tetapi tidak ada penyelesaiannya.

“Proses penegakan hukum sempat berhenti di tanggal 16 Januari 2023 ketika penyidik perkara a quo telah melimpahkan perkara ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta namun perkara a quo tidak dilanjutkan proses hukumnya sehingga Para Advokat dari Kantor Hukum “FRISKA GULTOM & PARTNERS” yaitu Friska JM Gultom, SH dan Rido T.H Pakpahan, SH mengirimkan surat perihal “Mohon Perhatian Khusus dan Penahanan Tersangka Atas Nama Martinus” dan mendatangi Kantor Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta akhirnya proses hukum terhadap Tersangka Martinus dilanjutkan hingga sampai proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara,” ujar Friska.

Sementara Advokat Rido Pakpahan mengatakan Antony Tamren selaku Korban berharap perhatian khusus dari Hakim Ketua R.Rudi Kondarto, SH. “Kita Berharap adanya keadilan terhadap korban yang sudah kehabisan modal dibuat terdakwa Martinus,” ujarnya.

(Thomson)

Share.

About Author

Leave A Reply