Dua Saksi Buktikan Fadillah Merusak Tembok Monang, Dakwaan JPU Erma Semakin Terang

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erma Octora, SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara kembali menghadirkan 2 saksi yakni Budi Hartono dan Nainggolan Lumban Raja untuk didengarkan keterangannya terkait Terdakwa Fadillah ke persidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, No.17, Jakarta Pusat, Senin (12/4/2021).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Topan Mandala, SH, MH saksi Budi Hartono yang diperiksa pertama mengatakan sebagai Ketua Ormas FBR di Wilayah tersebut mengetahu adanya ribut-ribut.

“Hari pertama kejadian rebut-ribut saya melihat banyak orang dan mengetahu adanya pengrusakan tembok milik pak Monang Pangaribuan, lalu dua hari berikutnya saya mendatangi lokasi dan bertanya kepada yang namanya Fadillah. Fadillah itu baru saya kenal pada saat kejadian tahun 2016,” jawab Budi Hartono Menjawab pertanyaan JPU Erma Octora, SH.

Kemudian Budi Hartono menjelaskan pembicaraannya dengan Fadillah. Fadillah mengaku mempunyai surat-suratnya, namun surat yang disebutkan Fadillah itu tidak pernah ditunjukkan.

“Yang mulia, saya sebagai Ketua FBR tahun 2014-2017 saat itu tidak mau ada ribut-ribut. Meskipun bukan sebagai penegak hokum namun tugas ormas juga menjaga keamanan dilingkungan. Saya lahir di lingkungan kejadian sampai terpilih 3 periode sebagai Ketua FBR belum pernah melihat ada keributan atau perebutan lahan dilokasi tersebut. Oleh karena itu, saya pertannyakan dasar hak pak Fadillah untuk mengkleim tanah itu sebagai miliknya, namun tidak bisa menunjukan. Dia hanya mengaku saja ke saya punya surat, tetapi tidak pernah mempermelihatkan buktinya,” tutur Budi Hartono.

Sementara Penasehat Hukum (PH) terdakwa mempertanyakan saksi kapan mengenal Monang Pangaribuan dan mengetahui dasar kepemilikan Monang terhadap tanah itu. Dan saksi Budi Hartono menjelaskan bahwa sejak lama, sudah puluhan tahun mengetahui Monang Pangaribuan tinggal ditempat itu dengan sejumlah bangunan rumah tinggal dan puluhan kolam ikan, serta ribuan buah-buahan seperti kebun.

“Terkait dasar kepemilikan saudara Monang Pangaribuan atas tanah tersebut pada awalnya saya tidak tahu. Namun setelah adanya peristiwa keributan pembobolan tembok, akhirnya saya tahu dari penjelasan pak Monang sendiri, sama halnya saya bertanya kepada terdakwa Fadillah,” ujar Budi Hartono menjawab.

“Sejak kapan mengenal Fadillah? Dan Apakah saksi melihat terdakwa membawa martil dan linggis waktu pengrusakan itu,” Tanya PH, yang dijawab; Sejak kejadian dan tidak melihat.

“Saya sudah jelaskan diawal bahwa saya melihat dari jauh adanya keributan. Dan ternyata keributan itu adalah pengrusakan tembok milik pak Monang yang dikerahkan oleh Terdakwa Fadillah. Dan beberapa hari berikutnya disana dipasang plang nama atas nama “Fadillah” sebagai pemilik lahan,” ungkap Budi.

Sementara saksi Nainggolan Lumban Raja menjelaskan Monang Pangaribuan dikenalnya sejak tahun 1979. Monang sudah menguasai lahan tempat kejadian perkara. Dan atas seizin Monanglah dia bisa buka usaha tambal ban dilokasi itu. Sementara Fadillah diketahuinya baru setelah adanya peristiwa pengrusakan tembok itu. Terkait dokumen kepemilikan saksi tidak mengerti.

Terdakwa Fadillah didakwa Pasal 170 KUHP oleh JPU Erma Octora, SH karena diduga melakukan pengrusakan/pembobolan tembok lahan tanah milik Monang Pangaribuan Tahun 2016. Terdakwa Fadillah mengerahkan ratusan massa untuk membobol tembok Tanah/kebun supaya bisa memasuki lahan itu dan menguasainya.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply