Jaksa Dyofa Tidak Dapat Membuktikan Dakwaan, Advokat Andy Gultom: Mohon Hakim Bebaskan Terdakwa Gulabray

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Pidana tidak bisa diwakilkan! Asas hukum pidana siapa yang berbuat maka dia yang bertanggung jawab. Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.

Oleh karena itu, terdakwa Gulabray Naraindas Keswani ( 77 tahun) harus dibebaskan dari segala tuntutan hukum sebagaimana yang didakwakan dan dituntut Jaksa Penunut Umum (JPU) Dyofa Yudhistira SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara , yang menjatuhkan Tuntutan 2 tahun pidana penjara dan denda Rp100 juta subside 3 bulan kurungan karena terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakin bersalah melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

“Kami memohon agar yang mulia menilai secara objektif dan mendalam terhadap norma dan kaidah hukum yang didakwakan terhadap diri TERDAKWA, agar perbuatan orang lain (Amar Kumar Keswani DPO) tidak ditimpakan kepada Terdakwa Gulabray Naraindas Keswani selaku ayah dari Amar Kumar Keswani yang dituduh melakukan penipuan uang Rp.13 miliar, oleh PT. Tunas Maju Transporindo (PT. TMT),” tutur Advokat Andy RH Gultom, SH. memulai pembacaan nota pembelaanya, dihadapan Ketua Majelis Hakim Dodong Iman Rusdani, SH, MH di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (24/3/2021), pecan lalu.

Andy Gultom mengungkapkan dengan mengingat asas in dubio pro reo, seyogyanya Majelis Hakim tidak memutus perkara aquo dengan keraguan, dan tentunya apabila terdapat keraguan bagi Majelis Hakim, maka Majelis Hakim harus memutus perkara aquo berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang meringankan Terdakwa, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 6 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.

Andy R.H. Gultom, S.H, Evi Chrisviani, S.H., Raju D Rajagukguk, S.H., Yuliarta Tampubolon, S.H, dari Kantor Hukum RAJAGULTOM-LAWFIRM menyatakan terdakwa Gulabray Naraindas Keswani tidak terbukti secara sah dan menyakinkan menurut hukum melakukan Tindak Pidana sebagaimana yang didakwakan JPU dalam dakwaan Kedua Primair yaitu melanggar Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 64 Ayat (1) ke-1 KUHPidana Jo Pasal 55 Ayat (1) ke -1 KUHPidana.

“Yang mulia, kami memohon agar membebaskan terdakwa Gulabray Naraindas Keswani yang sudah berusia 77 tahun dari segala tuntutan saudara Penuntut Umum, karena terdakwa dihadirkan kepersidangan ini bukan karena perbuatannya sendiri, melainkan oleh kekuatan kekuasaan yang melampiaskan dendam terhadap terdakwa Gulabray atas perbuatan Amar Kumar Keswani (DPO) yang sampai saat tersangka yang sudah masuk daftar pencarian orang (DPO) oleh Kepolisian Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta,” ujar Andy memulai urayan pledoinya.

Hal itu diungakapkannya sesuai fakta yang terungkap dipersidangan bahwa terdakwa didakwa Kesatu Pasal 480 Ke-1 Kuhpidana Jo. Pasal 64 Ayat (1) Kuhpidana Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke 1 Kuhpidana ;
Kedua Primair Pasal 3 Uu No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 64 Ayat (1) Kuhpidana Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke 1 Kuhpidana ;
Kedua Subsidair Pasal 5 Uu No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 64 Ayat (1) Kuhpidana Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke 1 Kuhpidana ;

“Saudara JPU terlihat sangat ragu atas dakwannya karena tiak dapat membuktikan Pasal 480 KUHP sehingga pada surat Tuntutannya JPU membuktikan Kedua Primair Pasal 3 Uu No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Jo. Pasal 64 Ayat (1) KUHPidana Jo. Pasal 55 Ayat (1) Ke 1 Kuhpidana, yang mana sangat jelas bahwa terdakwa tidak pernah malakukan penampungan uang kejahatan yang disamarkan menjadi seolah uang halal. Karena terdakwa Gulabray hanya diperintahkan mentransfer uang kepada orang-orang yang sudah ditentukan oleh Amar Kumar,” ujar Andy Gultom, SH mengurai tuntutan JPU.

Dia juga menekankan bahwa keterangan kedua saksi dari PT. TMT dipertimbangkan hakim. “Yang mulia, kedua saksi tidak mengenal terdakwa dan hanya mengenal Amar Kumar Keswani (Anak terdak). Bahwa awalnya saat ditanya apakah Amar merupakan karyawan perusahaan saksi menjawab Amar adalah karyawan yang dibayar bulanan oleh saksi akan tetapi selanjutnya saksi menyampaikan bahwa ada juga proyek-proyek Amar bekerja seperti broker yang diberikan kepada Amar. Hal ini menunjukkan bahwa tidak jelas hubungan antara Amar dengan saksi dan juga dengan PT Tunas Maju Transporindo, apakah sebagai karyawan yang dibayar oleh saksi perbulan atau broker yang bekerja berdasarkan proyek ?” ujar Andy.

Lebih jauh Andy mengatakan bahwa saksi mengatakan sudah 34 kali mengerjakan kerjasama kontrak kerja (lisan) antara Amar Kumar dengan Adi Putra Prayitna (Komisaris PT. TMT) dan yang menjadi bermasalah adalah kontrak yang ke 33. Dan kerjasama itu dilakukan tidak pernah diketahui terdakwa Gulabray, dan itu diakui kedua saksi.

Sementara uang Rp.13 miliar yang dipermasalahkan JPU tidak pernah diberikan Pelapor Santi Herliana dan Adi Putra Prayitna kepada terdakwa, baik melalui transfer rekening maupun secara langsung tunai. Melainkan ditransfer ke Money Changer (PT. Gerizimindo). “Jadi, uang tidak pernah ada kepada terdakwa dari saksi pelapor. Untuk itu yang mulia supaya mepertimbangkannya sebagai hal yang meringankan,” tambah Andy.
Kemudian pernyataan Penasehat Hukum (PH) terdakwa Gulabray itu juga dikuatkan keterangan PT. Gerizimindo, yakni saksi Liem Daddy. Saksi Liem mengatakan tidak mengenal TERDAKWA Gulabray Naraindas. Bahwa Saksi mengenal Amar Kumar Keswani (DPO) dengan nama assegaf.

Bahwa kemudian Saksi Liem dihubungi Amar Kumar Keswani agar Saksi melakukan penukaran uang (dollar ke rupiah- rupiah ke dollar), setelah ada transferan dari PT. TMT ke PT. Gerizimindo (Monay Changer). Lalu kemudian disuruh mengantar atau mengirim uang itu kepada beberapa orang termasuk kepada TERDAKWA Gulabray Naraindas, melalui kurir.

“Bahwa semua transaksi terjadi melalui komunikasi langsung dengan Amar Kumar melalui WhatsApp dan telepon dan tidak pernah ada komunikasi dengan TERDAKWA Gulabray Naraindas secara langsung. Dan bahwa semua transaksi uang masuk yang terkonfirmasi ke PT. GERIZIMINDO adalah dari Amar bukan dari Terdakwa Gulabray,” urai Andy secara mendalam.

Selanjutnya dikatakan, menurut keterangan saksi dimuka persidangan TERDAKWA adalah orang yang ditunjuk oleh Amar Kumar untuk menerima uang yang akan dikirimkan oleh PT. Gerizimindo melalui kurir, bahwa TERDAKWA Gulabray hanya menerima uang dari kurir PT Gerizimindo dan tidak pernah datang ke PT. Gerizimindo untuk melakukan penukaran uang.

“Bahwa telah jelas terungkap di persidangan berdasarkan kesaksian yang disampaikan saksi, Terdakwa tidak pernah menukar uang hanya menerima saja uang dari Money Canger atas suruhan Amar Kumar Keswani. Yang berarti yang melakukan penukaran uang adalah Amar Kumar Keswani Als. Latif Assegaf dengan Lim Deddy selaku Pemilik Money Changer melalui telepon. Bahwa setiap transaksi uang yang ditukar berulang kali dari mata uang rupiah ke dollar kemudian balik lagi ke rupiah dilakukan oleh saksi bukan Terdakwa,” tegas Andy.

Selanjutnya Advokat Andy membacakan keterangan saksi Baptista Adinda Dinanti yang menjelaskan tidak mengenal Terdakwa dan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Terdakwa, tetapi mengenal Amar Kumar Keswani sejak Juli 2019, dan Amar mengaku namanya sebagai Adi.

Bahwa setiap uang yang masuk ke rekening saksi, saksi tidak mengetahui uang dari mana, dan tidak pernah bertanya kepada Amar untuk apa; Bahwa Amar meminta tolong kepada saksi untuk ke bank mengambil uang yang telah Amar kirimkan ke rekening saksi, kemudian saksi transferkan kembali uang yang masuk tersebut ke beberapa rekening. Bahwa saksi tidak punya hubungan dengan PT. Tunas Maju Transporindo (TMT).

Bahwa saksi Baptista pernah diminta Amar Kumar untuk mengirimkan uang ke rekening Terdakwa sebesar Rp. 500 juta dan Rp. 117 juta. Bahwa saksi diperintahkan Amar untuk melakukan transaksi keluar uang melalui Telepon/WhatsApp. Bahwa Amar yang melakukan perhitungan dan arahan untuk pentransferan ke beberapa rekening; bahwa saksi tidak tahu uang yang masuk ke rekeningnya dari Terdakwa untuk apa. Bahwa saksi menyatakan tidak menerima keuntungan dari tindakan saksi membantu Amar, namun saksi menyatakan bahwa Amar akan meninggalkan sebesar Rp. 5 juta di rekening saksi.

Keterangan Saksi Shara Ajeng mengatakan tidak mengenal Terdakwa dan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Terdakwa. Bahwa saksi mengenal Amar Kumar sebatas urusan pekerjaan. Bahwa saksi dijadikan Amar Kumar sebagai Brand Ambassador untuk ekspedisi pekerjaan Amar di Dubai. Bahwa uang yang masuk ke rekening saksi bukan atas nama Amar tetapi Amar mengkonfirmasi uang yang masuk tersebut pengirimnya adalah Amar. Bahwa uang masuk ke rekening Saksi senilai Rp. 50 juta, Rp.53,716 juta,- serta Rp. 9 juta. Bahwa uang yang dikirimkan kepada saksi sebahagian adalah uang honor atau fee atas pekerjaan yang dijanjikan oleh Amar dan sebahagian atas permintaan Amar dikirimkan kepada beberapa orang. Bahwa Saksi menerima pembayaran atas pekerjaan sebagai Brand Ambassador sebelum pelaksanaan pekerjaan dan walaupun fakta nya sesampainya saksi di Dubai pekerjaan itu ternyata tidak ada. Bahwa selain menerima uang dari Amar, saksi juga diminta Amar untuk mengirimkan uang kepada haykal dan untuk membayar hotel.

Keterangan Saksi Henni Aryanti menjelaskan tidak mengenal Terdakwa dan tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Terdakwa. Bahwa saksi mengenal Amar Kumar mengaku sebagai Febri. Bahwa amar menjanjikan kepada saksi untuk membuka Toko Online yang penjualannya dikelola saksi dan Amar yang mengatur keuangannya.

Bahwa ATM saksi di pegang atau dikuasai oleh Amar. Bahwa saksi tidak mengetahui setiap uang yang masuk dan keluar atas rekeningnya. Bahwa yang melakukan setiap transaksi atas rekening Saksi adalah Amar.
Tanggapan Terdakwa mengatakan tidak mengenal saksi dan menerima keterangan yang disampaikan oleh saksi dimuka sidang. Dan bahwa keterangan saksi tidak kaitan dengan Terdakwa.

Analisis Penasihat Hukum:
Bahwa berdasarkan fakta di persidangan, bahwa ketiga saksi: 1. Baptista Adinda Dinanti, 2. Shara Ajeng, dan 3. Henni Aryanti juga merupakan dari bagian orang yang diperintahkan oleh Amar Kumar untuk menerima dan mengirimkan uang kesejumlah rekening orang lain, sama halnya yang dilakukan terdakwa Gulabray Keswani dan mendapatkan uang dari Amar.

Fakta-fakta yang terungkap di persidangan bahwa sampai saat ini bahkan sebelum Terdakwa diperiksa dalam persidangan ini dan masih berstatus Tersangka, Terdakwa tidak pernah ada menerima uang-uang yang dikirimkan yang kemudian uang tersebut dikembalikan kepada Terdakwa. Sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Terdakwa menerima dana tersebut sebagai suatu kekayaan atau uang yang diperoleh dari sistem keuangan sebagai uang yang halal atau uang sah sehingga dapat dikatakan terdakwa melakukan pencucian uang atau money laundering.

Bahwa didalam perbuatan pidana yang disebutkan JPU, bahwa terdakwa tidak memiliki kehendak Jahat (mens rea) untuk menerima uang yang patut diduga hasil tindak pidana kejahatan dan mau menghilangkan asal usul uang tersebut. Terdakwa hanya melakukan semua itu atas desakan Amar Kumar selaku anak dari terdakwa. Sebagaimana yang disampaikan JPU dalam tuntutannya bahwa dapat dipastikan terdakwa tidak pernah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Oleh karena itu telah jelas dan teranglah bahwa perbuatan Terdakwa tidak terpenuhi unsur “yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa diperoleh dari kejahatan penadahan ” tersebut, maka telah patutlah bahwa tidak ditemukannya niat jahat (mens rea) dari perbuatan terdakwa, selanjutnya, atas tidak terpenuhinya niat jahat tersebut patutlah dianggap bahwa tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Terdakwa.

Bahwa JPU tidak mampu mengurai niat jahat Terdakwa dan tidak mampu mengurai peran serta Terdakwa dalam membuktikan kesalahan Terdakwa, dikarenakan uang yang diberikan kepada Terdakwa, pada saat terdakwa menerimanya diterima dengan niat baik. Menurut R. Soesilo menjelaskan bahwa sifat asal dari kejahatan yang melekat pada barang yang didapat dari kejahatan adalah tidak kekal (tidak selama-lamanya) artinya apabila barang tersebut telah diterima dengan itikad baik (goeder trouw), maka sifat asal dari kejahatan itu menjadi hilang.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply