Diduga Saksi Kunci Dilepaskan, BB Berbeda, Terdakwa Desy Minta Dibebaskan Hakim

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA  –  Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Taufan Mandala, SH, MH diminta membebaskan Terdakwa Desy Mar Aurora Sinaga dari segala tuntutan hukum sebagaimana yang dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dody Witcaksono, SH, yang menjatuhkan Tuntutan 3 tahun Pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 245 KUHP tentang uang palsu.

Hal itu disampaikan Ketua dan Pendiri LSM Gracia Jonh Samosir, SH setelah mendengar yang terungkap dari pledoi (pembelaan) terdakwa Desy Mar Aurora Sinaga dipersidangan bahwa ada sejumlah kejanggalan yang dilakukan penyidik pada proses penyidikan perkara, dimana seorang bernama Martin Warga Negara Asing (WNA) Nigeria yang diduga sebagai saksi kunci dan bahkan diduga keras sebagai pemilik dollar Amerika palsu itu.

“Kita melihat sejumlah kejanggalanlah dalam proses penyidikan perkara Desy. Martin itu kita duga sebagai saksi kunci dan bahkan kita duga dialah dalang perdaran dolar palsu itu. Karena terdakwa mengatakan dollar itu dari Martin kepadanya melalui Abdul yang tujuannya investasi. Mengapa penyidik melepaskannya? Mengapa bantahan Martin itu tidak dikonprontir kepada Desy? Itu yang pertama,” ujar Jonh Samosir, kepada radaronline.id melalui WhatsApp, Selasa (23/3/2021), malam.

Kejanggalan lainnya menurut Jonh Samosir adalah adanya perbedaan barang bukti 166 lembar pecahan $100 di persidangan dengan yang ada di BAP. “Gambar dan nomer seri barang bukti 166 lembar $100 itu berbeda dengan yang tertera di BAP yang dihadirkan kemuka persidangan. Ini kejanggalan kedua,” tegas Ketua LSM Gracia itu.

Menurut Jonh Samosir bahwa atas Kejanggalan penyidikan yang dilakukan penyidik itu, LSM Gracia sudah melaporkan penyidiknya ke Propam Polri dan Kompolnas, dan saat ini laporannya masih berproses.

Lebih jauh Samosir mengkritisi bahwa menghadapkan Desy Mar Aurora Sinaga kepersidangan sangatlah prematur karena polisi melepaskan Martin warga negara asing (WNA) Nigeria itu.

Sedangkan Desy sendiri mengaku dijebak oleh Martin (yang belum dikenalnya) melalui Abdul yang menawarkan investasi.

Desy Mar Aurora Sinaga tidak pernah mengetahui dan membayangkan bahwa penawaran investasi oleh Martin itu akan berujung ke balik jeruji besi.

Penangkapan Martin adalah atas keterangan Desy, tetapi setelah polisi menangkap Martin lalu kemudian dilepas tanpa terlebih dahulu dikonfrontasi dengan Desy. “Padahal sudah menjadi rahasia umum, sudah cukup dikenal bahwa WNA (Nigeria) di Indonesia sebagai pemain bola, sindikat narkoba dan pengedar dolar palsu dengan mengorbankan putra putri Indonesia. Ini adalah persoalan yang harus didalami penyidik agar menemukan pelaku utama,” tambah Jonh.

Sebelumnya terdakwa Desy melalui pledoi mengatakan dolar tersebut diperoleh dari Martin melalui Abdul. Namun polisi tidak mengkonfrontir jawaban Martin kepada terdakwa. Polisi hanya mengatakan: Martin tidak terlibat.

Pledoi mengungkapkan bahwa keterangan Terdakwa dan keterangan saksi Mufti Fathurrohman (Polisi) serta saksi Hendro Sulistyo (Polisi) terdapat kesamaan mengenai Martin warga negara Asing (WNA) Nigeria dilakukan penangkapan, akan tetapi saksi Mufti Fathurrohman (Polisi) dan saksi Hendro Sulistyo (Polisi) mengatakan bahwa Martin tidak ada keterkaitannya. Sementara untuk penangkapan Martin adalah berdasarkan keterangan terdakwa Desy. Dan Desy sendiri mengaku belum mengenal Martin secara fisik karena belum pernah bertemu dan baru berkomunikasi melalui WhatsApp.

“Mengapa begitu mudahnya polisi menerima pernyataan Martin? Ada apa? Bukankah seharusnya polisi melakukan pengembangan kasusnya? Ini sindikat!” ujar Jonh Samosir.

Oleh karena itu terdakwa Desy memohon Majelis membebaskan dirinya dari dakwaan-
dakwaan JPU (vrijspraak) sesuai Pasal 191 Ayat (1) KUHAP atau setidak -tidaknya melepaskan Terdakwa DESY MAR AURORA SINAGA
dari semua tuntutan hukum (onstlaag van alle rechtvervolging) sesuai Pasal 191 Ayat (2) KUHAP.

Bahwa fakta dalam persidangan terkait bukti uang dollar amerika pecahan $100 sebanyak 166 lembar yang diajukan oleh JPU  berdasarkan surat berita acara penyitaan uang dollar dari Terdakwa terdapat perbedaan nomor seri yang setelah dicek sebanyak 3 kali pengecekan yang disaksikan oleh Majelis Hakim, JPU saksi TRIYATNO, dan Penasihat Hukum Terdakwa, dihitung jumlah lembarannya adalah sesuai yaitu 166 lembar akan tetapi berbeda dengan uang dollar yang dibuat dalam berita acara pemeriksaan para saksi (dalam berkas terdapat foto uang dollar amerika).

Jonh Samosir selaku Ketua LSM Gracia yang tupoksinya sebagai kontrol sosial terhadap kinerja pemerintah memohon Majelis Hakim mendalami keterlibatan terdakwa Desy Sinaga dalam perkara dolar palsu.

“Saya percaya majelis sudah memegang kunci dalam putusan nya nanti. Dan terdakwa Desy tidak pernah mengetahui hal dolar palsu itu. Majelis pastinya sudah mendalami memsrea keterlibatan terdakwa Desy,” ungkap Jonh.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply