Keterangan Saksi M. Genta Cristian Halim Mengaku Berpengalaman Proyek Tambang Nikel

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, SURABAYA –  Christian Halim, terdakwa kasus dugaan penipuan tambang nikel kembali menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (8/3/2021). Sidang kali ini,  mendengarkan keterangan tiga saksi dari pihak pelapor Christeven Mergonoto.

Dihadapan majelis hakim yang diketuai Tumpal Sagala, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania dari Kejaksaan Tinggi Jatim mengadirkan tiga saksi diantara, M Gentha Putra, Pangestu Hari Kosasih dan Ilham Erlangga.

Dalam keterangan saksi Pangestu Hari Kosasih mengakui bahwa dirinya sebenarnya tak terlibat langsung dengan bisnis tambang nikel yang dikerjakan Christeven Mergonoto dengan terdakwa Christian Halim. “Saya kenal dengan ayahnya Gentha, dia meminta saya untuk membimbing M Gentha Putra dan Christeven Mergonoto bisnis tambang nikel, saya sendiri belum punya pengalaman menambang nikel, namun berpengalaman menambang batubara,” ungkapanya.

Karena didorong oleh ayahnya Gentha, saya akhirnya bersedia dan menjadi komisaris PT CIM yang kami dirikan bersama M Gentha Putra dan Christeven Mergonoto. “Jadi saya cuma mengawasi saja, yang terjun langsung ya Gentha dan Christeven Mergonoto,” katanya.

Karena tak terjun langsung dalam operasional bisnis nikel tersebut saksi Hari Kosasih lebih banyak menjawab tak tahu dan tak ingat ketika ditanya Jaka Maulana dan Anita Natalia selaku penasehat hukum terdakwa serta Majelis Hakim soal perjanjian penambangan.

“Itu semua urusannya direksi, saya cuma terima laporan, saya juga minta Christian Halim yang ditunjuk mengerjakan pembangunan infrastruktur penambangan agar menghitung betul rencana anggaran proyek,” jawab Hari Kosasih.

Hal sama juga disampaikan saksi M Gentha Putra bahwa Christian Halim mengatakan kepada dirinya berpengalaman dalam proyek penambangan nikel. “Saya dan direksi PT CIM dimana Christeven sebagai direktur dan Pak Hari Kosasih selaku komisaris percaya dengan omongan terdakwa, sehingga kami menunjuk dia sebagai kontraktor pembangunan infrastruktur dan penambangan,”ujar M Gentha.

Menurut M Gentha Putra permasalahan muncul ketika diketahui, bahwa proyek pembangunan infrastruktur penambangan yang menelan dana Rp 20,5 miliar hasilnya kurang memuaskan dan tak sesuai harapan. “Kami akhirnya menghentikan pekerjaan Christian Halim dan dia kami minta pertanggungjawaban mengenai dana Rp 20,5 miliar tapi dia malah bilang rugi,” ujarnya.

Ditanya oleh Ketua Majelis Hakim Tumpal Sagala mengenai speksifikasi dan gambar proyek yang digarap terdakwa Christian Halim, skasi M Gentha Putra mengatakan proyek pembangunan infrastruktur penambangan nikel tidak ada speks dan gambar proyeknya. “Kami percaya saja pak hakim sama omongan Christian Halim,” ujar M Gentha polos.  Atas jawaban M Gentha tersebut, Hakim Tumpal Sagala menyatakan, ini gimana proyek dengan nilai Rp 20,5 miliar tak ada gambar proyek. “Kalau kontraktor membangun apa saja ya jangan disalahkan, wong panduannya tak ada,” ujar hakim.

Ditanya mengenai kerugian dan permasalahan proyek tambang nikel tersebut, M Gentha Putra mengaku berdasar perhitungan ahli ITS Rp 9,3 miliar.

Disinggung soal uang Rp 1 miliar yang diberikan terdakwa kepada saksi M Gentha pada awal proyek berjalan, M Gentha mengakui bahwa uang itu merupakan uang jaminan tambang, karena areal pertambangan nikel merupakan miliknya. “Uang itu sah dan wajar diterima pemilik tambang,” katanya.

Karena sudah menerima uang tersebut dari terdakwa, hakim Tumpal Sagala menyatakan bahwa saksi M Gentha bisa dijadikan terdakwa sebab ikut menikmati uang dari kasus ini.

Begitu juga dengan saksi Ilham Erlangga yang merupakan Direktur Operasional perusahaan penambangan milik M Gentha Putra, dia mengaku membuat kontes lelang penambangan nikel yang diikuti sejumlah kontraktor tambang termasuk Christian Halim. “Christian Halim ditunjuk selaku kontraktor penambangan pimpinan PT CIM. Jawaban saksi Ilham Erlangga ini yang tak sesuai dengan keterangan para saksi dan dakwaan Jaksa, membuat hakim bertanya-tanya dengan kasus ini. “Ini kasus aneh antara dakwaan dan keterangan saksi sangat berbeda,” kata hakim Yohanes.

Kasus ini dilaporkan oleh Christeven Mergonoto  yang juga salah satu direktur PT Santos Jaya Abadi (Kapal Api) yang merasa tidak puas dengan bisnis kerja sama proyek tambang nikel tersebut.

Dalam perjalanannya, perjanjian kerja sama yang dilakukan secara lisan itu terjadi selisih nilai dari modal yang dikucurkan dengan hasil pengerjaan proyek. Selisih nilai tersebut diperkirakan sebesar Rp 9,3 milliar lebih.

HARIFIN

Share.

About Author

Leave A Reply