Priyonggo Bersaksi, Advokat Johan: PT Indotruck Utama Membangun Narasi Rekayasa

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sigit Hendradi, SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan menghadirkan dua saksi masing-masing Priyonggo dan Agung Prabowo, untuk didengarkan keterangan terhadap terdakwa Arwan Kotty kepersidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Jln. Ampera, Jakarta Selatan, Senin (18/1/21).

Dihadapan Ketua Majelis Hakim Arlandi Triyogi, SH, MH, dengan hakim anggota Toto Ridarto, SH, MH Florensasi Susana kendenan, SH, MH saksi Priyonggo mengakui mendapatkan kuasa dari Bambang selalu Presiden Direktur PT Indotruck Utama untuk melaporkan Arwan Koty ke Bareskrim Polri.

Saksi Priyonggo (sales marketing) PT. Indo Truck Utama adalah penerima kuasa dari Bambang selaku Presiden Direktur PT. Indo Truck Utama untuk melaporkan Terdakwa Arwan Kotty ke Bareskrim Polri dengan Laporan Pasal 220 KUHP atau perbuatan tidak menyenangkan/fitnah, karena terdakwa Kotty telah membuat Laporan Polisi di Polda Metro Jaya, yang melaporkan PT. Indotruck Utama Cs melakukan penipuan dan penggelapan terhadap excavator Volvo ES-210 (Rp1.250.000.000.00,-) dan Excavator Volvo ES-350 (Rp2.650.000.000.00,-) yang sudah dibayar lunas oleh terdakwa Arwan Koty namun barangnya tidak pernah diserahterimakan PT. Indotruck Utama (selaku penjual) kepada Arwan Koty (selaku pembeli).

Ditengah perjalanan Laporan Terdakwa Arwan Koty (di Polda Metro Jaya) itu dihentikan dan di terbitkan Surat Pemberhentian Penyelidikan Perkara (SP3) oleh Polda Metro Jaya.

Berdasarkan adanya SP3 dari Polda Metro Jaya terhadap laporan Arwan Koty itulah PT. Indotruck Utama melaporkan balik Arwan Koty ke Bareskrim Polri dan dan pelapornya adalah Priyonggo. Dan laporan itu disangkakan Pasal 220 KUHP.

Oleh karena itulah, Priyonggo diperiksakan sebagai saksi korban atau pelapor.

Namun dalam pemeriksaaan persidangan saksi Priyonggo tidak banyak memberikan keterangan yang membuat terang persidangan. Karena Priyonggo melaporkan Arwan Koty hanya berdasarkan surat Kuasa.

Bagaimana perbuatan peristiwa pidana itu dilakukan Arwan Koty sebagaimana dalam pasal dakwaan JPU dalam Pasal 220 KUHP: “Barang siapa memberitahukan atau mengadukan bahwa telah dilakukan suatu perbuatan pidana, padahal mengetahui bahwa itu tidak dilakukan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan.”

Padahal Laporan itu belum dilakukan tingkat penyelidikan/penyidikan oleh Polda Metro Jaya. “Suatu perbuatan tindak pidana atau bukan tindak pidana bukanlah hasil penetapan penyelidikan/penyidikan polisi tetapi itu adalah hasil putus pengadilan. Putusan Pengadilan yang menentukan apakah perkara itu masuk ranah pidana atau bukan pidana,” ujar Advokat Aidi Johan kepada Saksi Priyonggo sebelum melontarkan pertanyaan.

Aidi Johan bertanya: “Apakah saudara saksi (Priyonggo) tahu apa yang di SP3 polisi itu?” Yang jawab: laporan itu.

Aidi Johan bertanya: “Apakah Saudara pernah membaca Surat SP3 ini?” Dijawab: lihat tapi tidak terlalu memperhatikan.

” Gara-gara Laporan saudara Klien saya (Arwan Koty) ini sudah mau dipenjara. Padahal saudara tidak mengetahui apa isi atau makna SP3 itu. Apa yang ada ketahui hubungan antara PT Indotruck Utama dengan terdakwa Arwan Koty ini?” Ujar Johan bertanya kepada Saksi Priyonggo.

Priyonggo menjelaskan bahwa PT. Indotruck Utama adalah agen tunggal penjualan alat-alat Berat merek Volvo di Indonesia yang menjual 2 unit excavator Volvo kepada Arwan Koty dengan Perjanjian daitas Akte Jual Beli dihadapan notaris: “Apabila pembayaran unit excavator sudah lunas maka PT Indotruck Utama akan menyerahkan unit excavator Volvo itu kepada Arwan Koty di halaman PT Indotruck Utama (di Cakung Jakarta Utara, dengan Berita Acara Serah terima barang,” ujar Priyonggo.

Kapan itu terjadi? Tanya Johan, yang dijawab sekitar Juli tahun 2017.

Apakah terdakwa Arwan Koty sudah membayar? Tanya Johan, yang dijawab: sudah.

Apakah unit itu sudah diserahkan kepada terdakwa Arwan Koty? Tanya Johan yang dijawab: sudah.

Apa buktinya sudah diserahkan? Apakah ada serahterima? Atau berita cara serahterima? Tanya Aidi Johan yang dijawab: Tidak ada. Hanya surat tugas atas nama Bayu.

Hal yang sama juga dijelaskan saksi Agung Prabowo. Saksi Agung Prabowo ini dalam BAP adalah staf sales marketing tapi dipersidangan menyebutkan hanya staf bagian gudang yang mengeluarkan barang dari gudang.

Dipersidangan saksi Agung Prabowo mengatakan atas perintah atasannya Irfan dia akan menyerahkan unit kepada perwakilan Arwan Koty.

“Tugas saya menyerahkan unit yang diminta sales marketing. Dan itu sudah diberitahukan atasan saya Irfan bahwa akan ada atas nama Bayi yang akan mengambil unit yang merupakan perwakilan Arwan Koty,” jawab Agung Prabowo.

Kemudian Agung Prabowo menceritakan Bayu menunjukkan surat tugas dari PT. Tunas kemudian mencocokkan nama dengan KTP. Karena cocok saya serahkan unitnya, kata Agung Prabowo.

Ketika hakim bertanya, apakah penyerahan dua unit alat berat itu diserahkan secara bersamaan? Dijawab: tidak bersamaan, tetapi pada hari yang sama.

Menurut Aidi Johan SH, MH bahwa saksi telah membangun narasi rekayasa agar seolah-olah telah terjadi serahterima unit antara PT Indotruck Utama kepada terdakwa Arwan Koty. “Tidak ada penyerahan unit tanpa adanya berita acara penyerahan. Inikan berdasarkan transaksi yang didahului dengan Perjanjian dengan Perjanjian Akte Jual Beli dihadapan notaris. Jika seandainya pun betul ada serahterima unit kepada perwakilan Arwan Koty pasti ada berita acara serah terima. Dan pula pastinya ada konfirmasi kepada Arwan Koty baik melalui surat kuasa maupun konfirmasi melalui telepon. Ini tidak ada. Terlebih disitu tidak ada surat kuasa dari Arwan Koty kepada si Bayu. Ini kan bulsit.” Ujar Advokat Aidi Johan SH MH mengomentari keterangan saksi melalui seluler nya, Minggu (24/1/21).

Miris, melaporkan kepada pihak yang berwajib dikatakan sebagai perbuatan pencemaran nama baik atau fitnah. Padahal Arwan Koty adalah mengupayakan penegakan hukum untuk dirinya atas belum diterimanya 2 unit excavator Volvo dari PT. Indotruck Utama seharga Rp3.890.000.000.00,-

“@Somasi telah dilayangkan Arwan Koty kepada PT Indotruck Utama supaya menyerahkan unit excavator Volvo yang sudah dibayar itu, jawabannya: “Kami telah menyerahkan unit excavator Volvo kepada perwakilan anda atas nama Bayu. Dia membawa Surat kuasa dari Arwan Koty”, demikian jawaban dari Indotruck Utama.

Berbagai upaya dilakukan Arwan Koty untuk mendapatkan unit excavator Volvo itu dari PT. Indotruck Utama. Termasuk kepada Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Provinsi DKI Jakarta di Kelapa Gading Jakarta Utara selaku lembaga peradilan konsumen berkedudukan di Jakarta.

Bahkan saat ini juga masih berlangsung sidang perdata gugatan wanprestasi. Arwan Koty mengajukan gugatan wanprestasi melawan PT Indotruck Utama di PN Jakarta Utara. Dan proses persidangan sudah menunggu putusan dari hakim.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply