Istri Penggugat Pingsan Dipersidangan, Majelis Keliru Menilai PMH Adalah Wanprestasi

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA  –  Peristiwa pilu terjadi, Istri Penggugat pingsan dipersidangan pada saat Ketua Majelis Hakim Tumpanuli Marbun, SH membacakan pertimbangan-pertimbangan putusan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) antara Penggugat I (Arwar Koty) dan Penggugat II (Alfin) melawan Tergugat I (PT. Indotruck Utama) dan Tergugat II (Tommy Tausihan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (13/11).

Istri Penggugat langsung histeris dan pingsa dipersidangan pada saat mejelis membacakan eksepsi dan kesimpulan tergugat. Pembacaan belum pada putusan hakim.  “Aduh, saya kira ibu itu kenapa napa. Suhu Badannya dingin sekali, dan kondisi tubuhnya sangat lemah,” ujar Astrid salah seorang yang ikut membopong istri penggugat itu dari dalam persidangan ke luar persidangan.

“Saya yang melakukan semua transsaksi. Anak dan suami saya hanya diatas kertas. Jadi yang paling tau tahapan itu semua adalah saya. Sehingga begitu disebutkan bahwa Penggugta I mengetahu atau menyerahkan dua Giro (atas nama Alfin) kepada tergugat II, saya langsung protes. Karena proses penyerahan asset Penggugat I dan Penggugat II ke Deputi General Manajer Sales PT. Indotruck Utama Susilo saya ada. Saya pelaksananya. Jadi,PT. Indotruck Utama tidak pernah mengembalian asset Penggugat I dan Penggugat II setelah batalnya pembiayaan leasinng dan pembelian dua unit alat berat escavator Merk Volvo tersebut.”

Padahal menurut Prof. Dr. Atja Sonjaya, SH, MH bahwa pasca gagalnya pembiayaan leasing dalam pembelian dua escavator Volvo seharga Rp4 miliar itu maka PT. Indotruck Utama wajib mengembalikan asset Penggugat I dan Penggugat II. Justru perbuatan melawan hukumnya ada disitu, dimana Tergugat I tidak mengembalikan asset penggugat tetapi justru memberikan ke pihak lain (tergugat II) tanpa adanya suatu perjanjian,” ungkap Istri Tergugat I, ditengah isakantangisnya.

Menurut Istri Penggugat, bahwa majelis hakim telah membuat putusan sesuai opini tergugat sebagaimana yang disampaikan majelis dipersidangan. “Bagaimana mungkin majelis menyatakan bahwa Arwan Koty setuju dan atau tahu secara tidak langsung atau langsung untuk menyetujui atau mneyetujui Giro Penggugat II di cairkan penggugat II tanpa adanya bukti? Bukti-buktilah yang diuji dipersidangan sehingga memalui bukti-bukti itulah yang membuat terang suatu perkara. Mana bukti fakta dan bukti rekayasa akan terseleksi setelah sama-sama menyaksikan fisiknya,” ujarnya.

Sementara Penasehat Hukum Penggugat I dan II Diving Safni, SH mengatakan Pertimbangan Majelis Hakim No. 144 / Pdt.G / 2020 telah salah dan keliru dengan mempertimbangkan dan menyimpulkan bahwasanya dengan dibuatnya SPH dan penyerahan bertahap oleh Penggugat I dapat dikatakan Penggugat II telah setuju. Dan terbukti tidak dimasukkan kedalam SPH. Yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Dan terbukti juga bahwa Majelis Hakim telah salah dan keliru dengan menyatakan bahwa Pinjaman Penggugat I kepada Tergugat II yang bersifat pribadi karena adanya Jaminan aset dari Penggugat I dapat di transfer langsung kepada Tergugat I oleh karena Menurut pendapat ahli Prof. Aca Sondjaya. SH. MH. Bahwa tidak dibenarkan apabila si A meminjam uang kepada si B untuk membayar si C namun menurut ahli tidak dibenarkan langsung dibayarkan / ditransfer ke si C namun harus di serahkan terlebih dahulu ditransfer ke Si A,” ungkap Diving.

Menurut ahli tambah Diving, apabila ada perbuatan yang tidak diatur didalam Perjanjian maka hal tersebut merupakan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dan jika dikaitkan dengan perkara a quo tampak jelas hal tersebut merupakan Perbuatan Melawan Hukum oleh karena Giro EB 211206 dan EB 211207 tidak dimasukkan kedalam SPH sehingga bagamana dapat logikanya dikatakan hal tersebut merupakan Wanprestasi?

“Pertimbangan Majelis Hakim juga telah salah dan keliru dengan mengatakan bahwasanya perkara ini harusnya adalah Wanprestasi bukan Perbuatan Melawan Hukum namun Majelis menolak seluruh gugatan Penggugat dan bukan menyatakan bahwa Gugatan tidak dapat diterima / N O (Niet ontvankelijke verklaardd),” ujar Diving Safni menyikapi putusan majelis yang menolak seluruhnya isi gugagatannya.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply