Pelapor Minta JPU Hukum Maksimal Terdakwa Fatkul Janah

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hendrinawati Leo dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara menghadirkan saksi Ricci (pelapor) ke persidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (2/11).

Ricci dihadirkan kepersidangan untuk didengarkan keterangannya terhadap terdakwa Fatkul Janah yang didakwa melanggar Pasal 378, Jo.372 KUHP karena diduga melakukan penipuan dan penggelapan terhadap uang Rp.400 juta Ricci.

Dihadapan persidangan pimpinan ketua Majelis Hakim Maskur SH, Ricci mengatakan bahwa terdakwa Fatkul Janah menawarkan kerjasama investasi jual beli motor atas nama ‘Nojomi’ dengan pembagian fee 10 persen perminggu dari modal yang investasikan.

Pertamatama Ricci menyerahkan uang Rp.50 juta (uang kontan) pada bulan April 2017 tanpa adanya tandaterima. Hingga Rp400 juta yang diserahkan secara bertahap sampai pada Juni 2017. Kemudian terdakwa Janah menyerahkan 3 lembar GIRO kepada Ricci, melalui kakanya Hindun (kerumah Hindun) setelah terpenuhi Rp400 juta dari Ricci. Tetapi jika GIRO itu dicairkan, ternyata bank menolak katena dananya kosong.

Ketika hakim, Jaksa, atau Penasehat hukum terdakwa bertanya; mengapa menyerahkan uang tanpa tadaterima? Terdakwa menunjukan cek / giro 950 juta. Dan terdakwa berkata ada uang Rp400 juta dan terdakwa menyetorkan ke bank maka uang Rp950 juta itu akan otomatis cair. Meskipun demikian, saya tetap meminta maaf tandaterima, dan terdakwa menyatakan: nantilah pasti yang diberikan, “ujar Ricci menjawab pertanyaan itu.

Ricci menjelaskan bahwa pemberian uang kepada terdakwa Fatkul Janah itu bertahap mulai April, Mei, Juni dan terkahir Juli. Ada yang melalui transfer dan ada juga benda Iphon yang dijual terdakwa ke uang sehingga nilai atau uang itu Rp400 juta.

Sementara diluar persidangan kepada wartartawan Ricci mengaku dia menurut saja apa yang di katakan terdakwa. “Kita juga bingung mengapa kita mau menyerahkan uang itu. Ada niat tidak memberikan atau menyerahkan tetapi kalau kita ketemu si terdakwa Janah, maka kita jadi penurut,” kata Ricci.

“Dan GIRO 3 lembar yang diserahkan ke Kakak saya (Hindun) itu ternyata ada tanggak dan bulannya beda-beda, ada yang bulan Mei, Juni dan Juli. Tetapi diserahkan pada bulan Juli setelah 400 juta itu terpenuhi,” tambah Ricci.

Apa yang disampaikan Ricci dipersidangan itu, dikuatkan lagi dengan keterangan saksi Suryati. Suryati merupakan bukti ke dua yang dipersidangan. Suryati juga mengatakan bahwa dia menyetorkan Rp50 juta kepada terdakwa. Dan penyerahan itu disaksikan Ricci, Hindun, Winarto.

“Saudara Ricci yang memperkenalkan saya ke terdakwa Jannah. Dan terdakwa mengatakan punya usaha ‘NOJOMI’ usaha jual beli motor. Untuk usaha kami mau bekerja sama. Ternya diketahui bahwa terdakwa Janah hanya penjualan gitu,” ujar Suryati.

Suryati menjelaskan bahwa dirinya juga menerima GIRO dari Terdakwa Janah dan ternyata dananya juga kosong. “Giro yang diserahkan Janah itu sudah diambil oleh pihak bank,” ujar Suryati menjawab Pertanyaan Penasehat Hukum Terdakwa, yang menanyakan keberadaan GIRO tersebut.

Atas keterangan saksi itu terdakwa membantah. Bahkan awalnya terdakwa membantah seluruh keterangan saksi Ricci atau saksi Suryati. Sehingga Ketua Majelis Hakim atas perintah terdakwa. “Saudara terdakwa, kalau membantah jangan membabibuta! Sekarang saya bertanya: apakah benar menyerahkan uang 50 juta dan uang yang lainnya dari dokumen?” Yang dijawab: tidak!

“Apakah saudara terdakwa pernah menyerahkan cek atau GIRO kepada saksi Ricci dan saksi Suryati?” Yang dijawab: ya, pernah.
“Nah, itu ada yang dan akui, berarti tidak semuanya salah bukan?” Tegas Hakim sembari bertanya.

Hubungan apa terdakwa memberikan GIRO kepada saksi kalau tidak ada keterkaitannya dengan keterangan saksi? Jaksa, Penasehat hukum dan terlebih dahulu majelis hakim punya pendapat dan keputusan sendiri terhadap bantahan terdakwa.

Terdakwa didakwa
Berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP15418 / X / 2018 / PMJ / Dit Reskrimum, Tanggal 08 Oktober 2018 atas peniouan dan penggelapan uang Rp400 juta pada April 2017, di RUSUN WADUK PLUIT BLOK II Jakarta Utara. Namun laporan baru dibuat pada 8 Oktober 2018, satu tahun kemudian.

Kita berharap ada etiket baik dari terdakwa untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Namun, terdakwa selalu menghindar. Sehingga kita sepakat melaporkan. Sebenarnya yang jadi korban itu banyak, namun karena saya yang mengajak mereka (yang lain) itu maka dengan tanggungjawab saya selesaikan kepada mereka . Namun secara langsung saya hubungkan ke terdakwa Janah saya minta secara langsung. Kita minta JPU tuntut Maksimal si Janah. Jahat sekali orangnya, “ujar Ricci.

JPU pada sidang itu menghadirkan 4 penonton, termasuk dari pihak bank. Tapi karena padatnya jadwal sidang sehingga pemeriksaan saksi Hindun dan dari Pihak Bank ditunda, dan akan didasarkan pada sidang, Kamis (5/11/2020). Sidang perkara Fatkul Janah ini layaknya 2xseminggu yakni Senin dan Rabu.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply