Pradi Popularitasnya Masih Melebihi Idris

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, KOTA DEPOK — Pasangan calon walikota dan wakil walikota Depok, nomor urut 1, Pradi Supriatna-Afifah Alia dan nomor urut 2 Mohammad Idris-Imam Budihartono, yang mengikuti kontestasi di pilkada Depok, Desember 2020. Maka, dari kedua paslon tersebut Democracy And Electoral Empowerment Patnership (DEEP) Kota Depok, tertarik untuk mengukur performa dan kinerja penyelenggaranya. Selanjutnya, melalui sebuah studi dengan pendekatan survei yang disebarkan ke masyarakat Kota Depok.

“Artinya, metode pengambilan data dalam studi ini adalah melalui survei dengan dua belas buah pertanyaan sebagai instrumen pengambilan datanya. Pertanyaan survey dibuat dengan google form dan disebar melalui media sosial dan jaringan whatsapp group yang menjadi simpul sosial Kota Depok. Adapun responden dalam studi ini adalah masyarakat Kota Depok yang berdomisili dan tersebar di 11 kecamatan se-Kota Depok,” ujar Direktur DEEP Indonesia, Yusfitriadi.

Dia menjelaskan, bahwa data yang terhimpun dari studi ini berdasarkan dua belas pertanyaan yang menjadi instrument utama pengambilan data survei. Jumlah seluruh responden yang mengisi survey adalah sebanyak 582 orang.

“Jadi, ini berdasarkan hasil jawaban responden atas dua belas pertanyaan yang ditanyakan, dapat dilihat mengenai tingkat popularitas dan elektabilitas pasangan calon pada kontestasi Pilkada Kota Depok di mata publik,” jelas panggilan akrabnya Kang Yus.

Dia juga menerangkan, bahwa di dalam aspek popularitas yakni masyarakat mengetahuhi tokoh atau figur di Kota Depok seperti, Mohammad Idris memiliki popularitas yang cukup tinggi di kalangan masyarakat Kota Depok, yakni 81,6 persen responden menyatakan mengetahui. Sedangkan .18,4 persen responden menyatakan tidak mengetahui sosok pasangan Imam Budi Hartono.

Sedangkan, untuk Pradi Supriatna memiliki popularitasnya sedikit lebih tinggi dengan persentase 84,9 persen responden menyatakan mengetahui dan 15,1 persen menyatakan tidak mengetahui tokoh yang berdampingan dengan Afifah Alia.

“Artinya, berdasarkan hasil dari reponden, popularitas Pradi supriatna sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan lawan politiknya, yakni Mohammad Idris dan untuk pasangan Calon Wakil Walikota Depok Imam Budi Hartono dan Afifah Alia berdasarkan responden memiliki tingkat popularitas yang seimbang,” papar Kang Yus.

Kang Yus juga menyebutkan, bahwa sampai saat ini hiruk pikuk kampanye terus digencarkan oleh pasangan calon ataupun koalisi partai untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas pasangan calon, yang nantinya bisa dikonversi menjadi suara pemilih.

“Jadi, pasangan Pradi-Afifah sementara unggul di atas pesaingnya yakni pasangan Idris-Imam,” tandasnya.

Kang Yus mengingatkan, bahwa koalisi besar dalam Pilkada tidak menjadi jaminan kemenangan, tetapi ada unsur kekuatan personal dari figur yang diusung. Partai politik adalah kekuatan pengusung yang tidak terlalu kuat dalam menentukan elektabilitas.

“Maka dari itu koalisi partai politik bukan hal yang paling menentukan. Berdasarkan responden survei bahwa sosok figur lah alasan yang paling kuat bagi masyarakat memiliih Paslon Walikota dan Wakil Walikota Depok kedepannya,” imbuhnya.

Kang Yus menambahkan, bahwa setelah survei terkait dengan sumber informasi yang didapatkan dari masyarakat dan keberpihakan masyarakat Depok per 31 September 2020, pihaknya akan melaksanakan survei lanjutan.

“Jadi, hingga menjelang tahapan pungut hitung DEEP akan melaksanakan tiga kali survei lagi. Survei-survei tersebut akan menitik beratkan pada isu, kampanye dan hubungannya dengan Covid-19, isu efektifitas metode kampanye, pelanggaran dan penegakan hukum Pemilu. Kami akan melakukan survei lanjutan, ini baru tahap pertama,” pungkasnya.

MAULANA SAID

Share.

About Author

Leave A Reply