Lelang Kilat Agunan Dilakukan Terdakwa Bersama Prakash Direksi BOII

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA  – Proses Lelang kilat yang dilakukan kreditur Bank Of India Indonesia (BOII)- dulu Bank Swadesi, melibatkan Prakash dan petinggi BOII, setelah debitur PT Ratu Kharisma/Rita KK mengirim surat susul menyusul meminta agar dilakukan restrukturisasi.

Sementara Debitur PT Ratu Kharisma /Rita KK diketahui adalah nasabah lama di BOII tengah melakukan perlawanan upaya lelang agunan pinjamannya melalui jalur hukum perdata maupun pidana.

Namun berbagai upaya debitur tersebut tidak diindahkan kreditur BOII. Pemberitahuan lelang kelima sengaja dibuat hanya berselang dua hari saja sebelum pada pelaksanaannya 12 Februari 2011. Kreditur berdalih, debitur sudah mau bangkrut. Oleh karenanya harus cepat-cepat dituntaskan pelelangan agunan kredit Rp10,5 miliar tersebut kendati ditentang keras oleh debitur.

Upaya lelang paksa yang dilakukan BOII itu terungkap dalam sidang kasus perbankan dengan terdakwa eks Dirut BOII Ningsih Suciati beragendakan pemeriksaan terdakwa sendiri di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Senin (5/10/2020). Namun terdakwa Ningsih Suciati berkeberatan kalau disebutkan hanya dirinya saja dengan wakilnya (Wakil Dirut) Anil Balla berperan aktif dalam pelelangan villa Kozy di Seminyak, Bali, hingga bisa berlangsung super cepat.

“Semua punya andil, setiap yang ada fungsinya kaitan pengucuran kredit, termasuk direksi dan Komite Kredit. Karenanya, saya keberatan kalau hanya saya dihadapkan pada proses hukum ini,” kata terdakwa Ningsih Suciati.

Terdakwa juga mengakui permohonan restrukturisasi dan jual sendiri agunan yang dipinta debitur ditolak dewan direksi, komisaris dan dirinya sendiri selaku Dirut BOII. Sebab, sudah ada kesepakatan dengan Komite Kredit dan komisaris untuk dilakukan lelang secepat-cepatnya.

Menjawab pertanyaan JPU Hodziqotul alias Olla SH MH bagaimana sampai penurunan nilai obyek agunan melorot sedemikian rupa, Ningsih Suciati menyebutkan hal itu dilakukan karena lelang pertama sampai empat tidak ada peminat dan tidak pernah terjadi lelang.

“Kita cepat-cepat lelang dan melakukan penghapusan pembukuan biar cepat tuntas masalahnya,” ujar terdakwa yang sebelumnya telah dijatuhi hukuman terkait kasus perbankan pula. Oleh karena itu, apraisal PT Index diduga sengaja dipakai bank tersebut untuk menurunkan nilai asset (agunan) tanpa sepengetahuan debitur yang tentu saja sangat merugikannya (PT RK/Rita KK).

Namun demikian, terdakwa berulangkali menegaskan bahwa lelang yang dilakukan tanpa persetujuan debitur itu dilakukan tidak hanya atas inisiatifnya. Tetapi perbuatan dilakukan bersama BOD.

“Bukan perbuatan saya sendiri, tetapi bersama-sama,” tutur terdakwa.

Dalam sidang online atau daring majelis hakim pimpinan M Sainal SH MH, Olla juga mempertanyakan kenapa BOII menyetujui kemudian mencairkan kredit atas appraisal yang ditujukan ke Bank Bumiputera dan bukan ke BOII, Ningsih memberi alasan karena sudah ada penandatangan dan persetujuan dan peringatan-peringatkan ke debitur tidak diindahkan.

Setelah lelang agunan benar-benar dilaksanakan secara paksa dan dihargai hanya Rp6,3 miliar dari penilaian Rp15,8 miliar, PT RK/Rita KK masih saja ditagih bunga, utang atau pinjamannya. Menurut terdakwa, hal itu terjadi karena hitung-hitungan mereka memang demikian, masih terdapat kewajiban debitur.

Sidang kasus perbankan yang diduga melihatkan 21 direksi, komisaris, bankir-bankir dan unsur pimpinan BOII akan digelar lagi pada Senin (12/10/2020) dengan agenda mendengarkan pembacaan requisitor Tim JPU dari Kejaksaan Agung dan Olla serta Rima dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Pusat terhadap terdakwa Ningsih Suciati SE. Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan selama ini, terutama keterangan saksi a charge saling bersesuaian bahkan sepenuhnya mendukung surat dakwaan JPU menguatkan adanya tindak pidana perbankan dilakukan terdakwa Ningsih Suciati dengan direksi, komisaris dan pimpinan BOII lainnya.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply