JPU Tetap Pada Tuntutan, Korban Burung Walet: Novel Segera Diadili

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Satria Irawan dan Zainal dalam surat tanggapan nya atas pledoi (pembelaan) Penasehat Hukum dan pledoi Terdakwa Rony Bugis dan Rahmat Kadir Mahulete, menyatakan tetap pada Tuntutannya mengganjar 1 tahun pidana penjara terhadap kedua Terdakwa, dihadapan Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Djuyamto SH MH., Senin (22/6).

Ditengah berjalannya persidangan kasus penganiyaan terhadap Novel Baswedan itu, Aktivis Gugat Novel (AGN) justru melakukan demonstrasi damai menuntut tersangka Novel Baswedan segera dilimpahkan ke pengadilan.

” Kalau kasus penyiraman air keras kewajah Novel Baswedan adalah rekayasa, tetapi kasus penganiyaan pencuri sarang burung Walet di Bengkulu adalah fakta. Korbanya sampai ada yang meninggal dunia,” ujar Bayu Sasongko dalam orasinya dari atas mobil komando, mobil kijang warna putih.

Mereka mendesak Jaksa Agung RI Burhanuddin, SH segera melimpah berkas perkara tersangka Novel Baswedan yang sudah mangkrak selama 6 tahun sejak Novel Baswedan ditetapkan tersang tahun 2014 silam.

Praktisi Hukum dan Advokat Muannas Alaidid dalam relisnya yang dibagikan dalam aksi demo itu menjelaskan ketika ada keputusan praperadilan yang dikeluarkan dan memerintahkan agar kasus itu segera disidangkan dan surat pemberhentian perkara itu tidak sah maka secara hukum berkas perkara Novel Baswedan harus dinaikkan ke penuntutan, tidak ada pilihan Iain.

“Jangan ditafsirkan menggunakan dalil macam-macam, laksanakan kalau perintahnya harus dilanjutkan ya dilanjutkan. Kalau kemudian tidak dilanjutkan malah terindikasi melawan hukum yang dilakukan oleh institusi Kejaksaan,” terang Muannas.

Menurut politisi PSI ini, jika mantan Kasat Reskrim di Polres Bengkulu itu mengatakan bahwa dia ada bukti lain dengan adanya surat Ombudsman yang katanya terjadi rekayasa dan settingan oleh oknum-oknum tertentu, maka itu tanpa menyingkirkan putusan pra peradilan. Artinya kasus itu dapat disidangkan.

“Novel dapat menggunakan surat Ombudsman itu sebagai bukti sebagai bentuk pembelaannya di pengadilan. Jadi menurut saya adalah hak bagi para korban setelah mereka menunggu selama belasan tahun menuntut keadilan,” ucap Muannas.

Masih lanjut Muannas, dan mengatakan sejumlah kejanggalan dalam penanganan Penyidikan itu. “Bagaimana mungkin ada satu orang tewas tertembak di tempat tapi tidak ada keadilannya. Sementara jika anda bandingkan dengan kasusnya Novel yang hanya diduga terjadi penganiayaan terhadap dirinya itu aja berhak untuk mendapatkan keadilan,” ungkapnya.

Menurut Muannas kasus tersangka Novel Baswedan tidak ada pilihan lain kecuali memang harus diuji di pengadilan. “Perkara Novel Baswedan harus diuji dipengadilan agar publik tidak menilai bahwa seolah-olah Novel Baswedan kebal hukum, dan kemudian dikatakan hukum tajam kebawah dan tumpul keatas,” tegas Muannas.

Sementara itu, Dewan Pakar PKPI Teddy Gusnaidi menilai sikap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan terlihat cukup menggelitik yang menuding adanya rekayasa dalam kasus sarang burung walet di Bengkulu.

“Menurut saya Novel Baswedan itu lucu, apakah tidak boleh orang lain cari keadilan di negeri ini? apakah hanya dia yang boleh mencari keadilan di negeri ini?,” tegas Teddy Gusnaidi.

Menurut dia, Novel Baswedan terlalu egois. Ketika orang Iain mencari keadilan dianggap itu bagian dari rekayasa, ketika dia menjadi korban dia menyalahkan orang lain bahkan sampai menyalahkan Presiden.

“Jadi saran saya pada Novel Baswedan hadapi saja kasus ini secara profesional jangan mau di campur adukkan dengan politik. Jangan mau dimanfaatkan oleh orang-orang politik karena ketika anda terkena kasus ini, ketika anda menjadi pesakitan tidak akan ada lagi yang akan membantu anda,” beber Teddy.

Sebab, Ianjut Teddy, mereka para orang-orang politik akan mencari korban baru untuk mereka jadikan alat untuk mereka bisa tampil. Jadi Novel Baswedan hanyalah sebuah alat semata. Namun kalau Novel merasa negeri ini hukumnya tidak adil maka ia berpesan bahwa masih ada waktu untuk keluar dari negara ini.

“Anda (Novel Baswedan) bisa apa namanya pergi mencari keadilan di negara Iain, semoga anda bisa mendapatkan keadilan di negara lain jangan di Indonesia,” sebut Teddy.

Novel Jadi Penyidik KPK Tahun 2006, sementara kejadian Sarang Burung Walet 2004, dimana Letak Kriminalisasinya? Ujar Teddy penuh tanya.

Dalam kesempatan yang sama, Politisi PDIP Dewi Tanjung mengakui bahwa keluarga korban sampai detik ini masih mencari keadilan dan benaran hukum di NKRI. Dewi Tanjung memastikan kasus sarang burung walet yang terjadi pada tahun 2004 tidak ada upaya kriminalisasi terhadap Novel Baswedan.

“‘Novel Baswedan itu di angkat menjadi Penyidik KPK tahun 2006 jadi tidak ada korelasinya dengan kriminalisasi kepada Novel Baswedan sebagai penyidik KPK karena kasus penganiayaan sarang burung walet. lni dilakukan di saat Novel Baswedan masih menjadi Polisi aktif di Kepolisian Bengkulu,“ sambung Dewi Tanjung.

Dikatakan Dewi Tanjung, Novel Baswedan sebagai aparat Hukum penegak hukum harusnya berani mempertanggungjawabkan perbuatann dan membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan tidak ikut tedibat dalam penganiayaan tersebut. Tapi sekali lagi apa yang dilakukan Novel Baswedan itu terbantahkan oleh pernyataan Para korban dan saksi-saksi pertama. Dan juga rekan-rekan kerja Novel pada saat itu yang keberatan bahwa kasus ini rekayasa.

“Saat ini Novel Baswedan berteriak minta keadilan, kebenaran hukum, kejujuran hukum atas kasus penyiraman air keras kepada dirinya dan fair juga korban meminta hal yang Sama atas kasus penganiayaan sampai menghilangkan nyawa salah satu korban sarang burung Walet,” ungkapnya.

Dewi Tanjung mensinyalir adanya sebuah skenario besar yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tujuannya untuk menjatuhkan citra hukum di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi.

“Jadi ini ada tujuannya untuk menjatuhkan citra bapak Jokowi sendiri, karena dilihat dari beberapa statement Novel Baswedan yang menyudutkan pemerintahan Pak Jokowi,” ucap Dewi Tanjung lagi. ‘

la kembali berharap agar Novel Baswedan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya atas kasus penganiayaan pembunuhan kepada korban sarang burung walet.

“Seperti keinginan saya sebagai masyarakat dan keinginan masyarakat banyak Novel Baswedan dapat di penjara dalam kasus sarang burung walet ini,” pungkasnya.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply