Dua Saksi Kunci Berikan Keterangan Bertolak Belakang, YS Purnadi: Dakwaan JPU Tidak Terbukti

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA  –  Jaksa Penuntut Umum (JPU) Astri R, SH dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara kembali menghadirkan 5 saksi untuk didengarkan keterangannya pada persidangan terdakwa Peter Sidharta di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat,  Selasa (09/06).

Ke 5 saksi itu masing-masing Endo Kurniawan (Staf Hukum Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) DKI Jakarta), Bonapisius Sibarani (Bagian Umum Kantor Ali Sugiarto), Damiri (Security CV. Pasifik Toy),  Chumai Chu dan Liang Chu (Bagian Administrasi CV Pasifik Toy) memberikan keterangannya dihadapan Ketua Majelis Hakim Tumpanuli Marbun, SH, MH dan Tiaris Sirait SH.

Sementara secara berurutan ke 5 saksi itu diperiksa sesuai kesepakatan Hakim, JPU dan Penasehat Hukum (PH) Terdakwa, maka yang kedua diperiksa adalah Bonapisius Sibarani.

Dari pantauan RadarOnline.id dalam persidangan saksi pelapor Tedy Hadi Subrata (sudah diperiksa pada sidang sebelumnya) bertentangan dengan keterangan saksi kunci pelapor Bonapisius Sibarani. Padahal kedua saksi inilah sebenarnya yang menentukan apakah terdakwa terbukti bersalah melanggar Pasal 167 KUHP, Jo. Pasal 263 KUHP, sebagaimana dakwaan JPU.

Keterangan saksi Tedy Hadi Subrata mengatakan bahwa ahli waris Ali Sugiarto tidak pernah melakukan rencana jual beli Lahan di Bandengan Utara no.52. itu. Tetapi keterangan saksi Bonapisius Sibarani mengakui bersama Pinantun Hutasoit (kuasa dari ahli waris) pernah ada rencana menjual lahan kepada Peter Sidharta pada tahun 2005. Dan sudah ke notaris untuk membuat akte jual beli. Namun saat Notaris meminta kelengkapan dokumen kepemilikan tanah, kuasa ahli waris tidak dapat memenuhi sehingga transaksi batal.

Sehingga mulai tahun 2006 Terdakwa selaku penyewa tidak lagi  membayar sewa kontrakan kepada ahli waris Ali Sugiarto. Menurut Terdakwa Peter Didharta bahwa selama ini dia telah salah bayar.

Dan benar, pada tahun 2013 Terdakwa Peter Sidharta melakukan pengecekan status tanah ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jakarta Utara. Keterangan BPN Jakarta Utara mengatakan bahwa status tanah Jl. Bandengan Utara 52 itu adalah tanah negara.

Kembali ke keterangan saksi Bonapisius Sibarani mengatakan dia bekerja pada kantor Ali Sugiarto sejak tahun 1970 s/d 2005. Dan tanah yang menjadi sumber perkara adalah milik Lie Bun Tek.

Tanah yang diatasnya Gudang disewakan kepada CV Pasifik Toy, dengan Sewa bayar bulanan.

Tahun 2006 mulai ada persoalan antara kantor Ali Sugiarto dengan CV Pasifik Toy, karena yang menempati sudah bukan yang berhak (Bukan CV Pasifik Toy).

“Majelis, terjadi sengketa antara ahli waris dengan CV Pasifik Toy karena yang menempati bukan lagi CV Pasifik Toy, melainkan sudah orang lain. Dan orang lain itu tidak pernah minta ijin menempati gudang tersebut,” ujar Bonapisius.

Hingga majelis bertanya: “apakah saudara Saksi mengenal Terdakwa ini?”, Yang dijawab tidak kenal.

Tapi keterangan saksi itu dibantah Terdakwa Peter Sidharta. Melalui kuasa hukumnya menunjukan bukti-bukti bahwa terdakwa Peter Sidharta saling kenal dengan saksi Bonapisius Sibarani karena ada surat izin mengalihkan tempat dari gudang menjadi home industri. Dan ada tandatangan saksi Bonapisius Sibarani dalam surat tersebut.

Sehingga terbantahkan dakwaan JPU pasal 167 KUHP memasuki pekarangan dengan paksa. Karena faktanya Terdakwa Peter Sidharta sudah menempati tanah itu sejak tahun 1951 hingga saat ini, mulai dari orang tuanya pemilik CV Pasifik Toy, hingga kepada terdakwa dengan peralihan penggunaan gudang menjadi home industri.

Saksi menjelaskan bahwa Ali Sugiarto meninggal tahun 1975. Karena itu, sebagai ahli waris adalah anak Ali Sugiarto 10 orang, diantaranya Bambang, Nisa Lusiana, Karolina dan Teddy Sugiarto.

Menurut Saksi Sibarani alas kepemilikan Ali Sugiarto adalah akte jual beli.

Ketua Majelis Hakim bertanya: “Mengapa ahli waris tidak mensertifikatkan agendom verponding itu?” Yang dijawab karena belum ada uang ahli waris mengurus.

Selanjutnya anggota majelis Tiaris Sirait, SH, MH melontarkan pertanyaan terkait adanya peristiwa sewa menyewa. Siapa yang menerima sewa?  Yang dijawab atas perintah Nisa Lusiana Sugiarto.

Apakah saudara pernah melihat akte jual beli itu? Tanya Tiaris Sirait, yang dijawab pernah, Akte Jual beli itu dibuat tahun 1954. “Apakah saksi Tahu karena pernah melihat dan bekerja sebagai bagian umum pada kantor Ali Sugiarto, atau saksi fakta?” Yang dijawab pernah melihat.

Demikian juga keterangan saksi Bonapisius Sibarani di BAP yang mengatakan: CV Pasifik toy (Indri Yanto). Peter Sidharta mengatakan tidak mengenal Indri Yanto. “Indri Yanto tidak saya kenal, bukan ibu saya,” bantah Peter.

Tiba giliran JPU mempertahankan saksi. “Saudara saksi sebagai bagian umum kantor Ali Sugiarto, tentu melakukan penagihan. Waktu ngga ada pembayaran apa yang dilakukan?” Tanya JPU, yang dijawab jadi sengketa dan Kantor Ali Sugiarto meminta bantuan pengosongan, jawab saksi Sibarani.

Menurut Advokat Yayat Surya Purnadi, saksi Bonapisius Sibarani berbohong. “Saksi itu banyak bohongnya. Dibilang tidak ada izin dari kantor Ali Sugiarto, padahal dia sendiri yang membuat Surat pengalihan dari pengelolaan gudang menjadi industri. Terus dia bilang minta bantuan pengosongan lahan ke Pemda, sementara dia sendiri sudah tidak bekerja disitu sejak tahun 2006, padahal adanya pengosongan dilakukan kecamatan bersama satpol PP adalah tahun 2009,” ujar Yayat.

YS Purnadi bertanya kepada saksi Bonapisius Sibarani dan mempertegas terkait keterangannya yang mengatakan Terdakwa masuk tanpa ijin. Yang disertai penunjukan bukti surat pengalihan penyewaan dari gudang menjadi penyewaan industri yang mana surat itu ditandatangani Bonapisius Sibarani selaku kepala bagian umum Kantor Ali Sugiarto.

Saksi Bonapisius sempat berkelit bahwa ijin kepada Peter Sidharta tidak ada tetapi kepada CV Pasifik Toy. Sementara Peter Sidharta adalah penerus CV Pasifik Toy setelah pemilik CV Pasifik Toy meninggal dunia yang nota Bene adalah orang tua kandung Peter Sidharta.

Setelah dicecar pertanyaan oleh YS Purnadi barulah saksi Bonapisius Sibarani mengakui bahwa Pinantun Hutasoit adalah Direktur Kantor Ali Sugiarto. Dan mengakui juga bahwa dia dan Pinantun Hutasoit pernah kenitaris dalam rangka rencana penjual tanah kepada Peter Sidharta.

“Pernah tahu dari ahli waris mau menjual tanah tahun 2005, tidak jadi karena tidak ada kesepakatan,” kata saksi.

Atas jawaban saksi Bonapisius Sibarani itu, anggota majelis hakim Tiaris Sirait mengambil alih pertanyaan PH Terdakwa. “Saudara saki, kalau ada pertanyaan, pertanyaan itu yang dijawab. Tidak usah panjang lebar menghabiskan energi. Saudara mengataka tidak ada kesepakatan, ketidak sepakatan itu apa? Kan jelas pertanyaan itu. Jawablah dengan jelas jangan samar. Kita berada dipersidangan ini mengungkap semua yang belum terungkap. Karena keterangan saudara saksi dan saksi lainnyalah yang menbuat terang benderang perkara ini. Tentunya dengan kebenaran,” tegas hakim Tiaris.

Kemudian YS Purnadi bertanya terkait pembayaran pajak. “Saudara saksi, sepengetahuan saudara, apakah Ahli waris pernah membayar PBB?” Yang dijawab:  Tidak pernah.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply