Bupati Sidoarjo Non Aktif Jalani Sidang Perdana

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, SURABAYA – Bupati Sidoarjo nonaktif, Saiful Ilah menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor Surabaya, pada Selasa (03/06).

Terdakwa Saiful Ilah didakwa pasal berlapis karena dianggap telah menerima uang Rp 550 juta secara bertahap dari dua kontraktor, Ibnu Gofur dan Totok Sumedi, untuk memenangkan sejumlah proyek infrastruktur di lingkungan Pemkab Sidoarjo.

“Uang tender tersebut sebagai hadiah dari Ibnu Gofur dan Totok Sumedi atas pemenangan beberapa paket pembangunan di Pemerintah kabupaten Sidoarjo tahun anggaran 2019,” ucap jaksa KPK, Arif Suhermanto dalam dakwaannya.

Selain itu Saiful Ilah didakwa melanggar Pasal 12 huruf c atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Saya dengar dan mengerti. Tapi dakwaan itu tidak benar pak hakim,” jawab Saiful Ilah saat ditanya hakim Cokorda Gede Arthana, Ketua Majelis Hakim dalam sidang di Pengadilan Tipikor.

Usai sidang, Saiful Ilah kembali menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah dalam perkara ini.

Usai sidang terhadap terdakwa Saiful Ilah, majelis hakim yang sama menggelar sidang dengan terdakwa Kepala Dinas PU BMSDA Sunarti Setyaningsih, Kabid Bina Marga Dinas PU BMSDA Judi Tetrahastoto dan Kabag ULP, Sanadjihitu Sangadji.

Tiga pejabat itu didakwa dengan pasal yang sama seperti yang didakwakan terhadap Saiful Ilah. Meski berkas perkaranya dipisah, mereka disidangkan bersamaan, karena dalam kasus yang sama. “Terdakwa Sunarti menerima Rp 227 juta, Judi Tetra menerima Rp 350 juta, dan Sangadji menerima Rp 330 juta,” kata jaksa Arif Suhermanto membaca dakwaannya.

Seperti Saiful Ilah, tiga pejabat ini juga didakwa menerima uang dari dua kontraktor Ibnu Gofur dan Totok Sumedi untuk memenangkan sejumlah proyek di lingkungan Pemkab Sidoarjo. Dua kontraktor itu sudah terlebih dulu menjalani sidang.

Keduanya juga telah divonis oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Surabaya. Masing-masing dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 8 bulan dan denda Rp 100 juta subsider tiga bulan kurungan.

HARIFIN

Share.

About Author

Leave A Reply