Komnas PA: Tangguhkan Anak Indonesia Lawan COVID-19

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA  – Fakta dan data menunjukkan bahwa dampak Pandemi COVID-19 dan kebijakan melawan Virus Corona dengan menerapkan Pembatasan Sosial BerSkala Besar (PSBB) dimasing-masing daerah berpengaruh terhadap pemenuhan hak-hak dasar anak dan perlindungan anak.

Demikian penjelasan Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak menyikapi banyaknya anak menjadi korban kekerasan penelantaran dampak dari virus corona dan dampak dari kebijakan PSBB yang tidak sensitif terhadap perlindungan anak selama memperlakukan anak di rumah saja.

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA)  melaporkan bahwa sepanjang Maret hingga April 2020 saja telah menerima laporan melalui fasilitasi  Sistem Pengaduan Online (Simponi) Milik Kementerian PPPA  mencatat bahwa dilaporkan 407 anak menjadi korban sasaran  kekerasan dan perlakuan salah lainnya akibat dari pandemi COVID-19 yang terjadi dalam lingkungan keluarga selama kebijakan anak “di rumah aja” diterapkan dilaporkan 300 kekerasan dialami anak laki-laki dan 107 orang dialami anak perempuan.

Data ini bisa terjadi lebih banyak lagi bila laporan itu dikomplilasi dengan laporan yang diterima Lembaga Perlindungan Anak (LPA) dan lembaga pegiat-pegiat perlindungan di berbagai daerah selama virus Corona menyerang bangsa Indonesia.

Data kekerasan dan perlakuan salah lainnya tersebut hendaknya bisa bisa menjadi perhatian pemerintah,  masyarakat serta pegiat-pegiat perlindungan untuk menyusun membuat program memperteguh anak Indonesia melawan COVID-19.

Karena selama 2 bulan saja angka kekerasan,  eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran  terus terhadap anak meningkat. Belum lagi data-data yang dilaporkan ke lembaga-lembaga sosial anak, LPA  dan pegiat mperlindungan anak di seluruh Indonesia. Apa lagi sudah ditemukan ada banyak anak di berbagai dari daerah terkonfirmasi positif virus corona bahkan dikabarkan ada anak meninggal dunia karena Corona.

Keadaan ini hendaknya menjadi “triger” mendorong semua pihak khususnya para orang tua untuk menjadikan rumah   yang ramah dan aman dari kekerasan dan perlakuan salah lainnya,  dan rumah yang bersahabat bagi anak-anak  dalam menghadapi serangan virus corona yang kita semua tidak tahu kapan berakhirnya.

Oleh sebab itu, diperlukan pedoman pencegahan kekerasan, penentaran, dan eksploitasi terhadap anak dampak dari pandemic COVID-19 yang disusun Dirjen Rehabilitasi Sosial dan Badan PBB untuk anak Unicef  di sosialisasi ditengah-tengah masyarakat. Program sosialisasi Memperteguhkan Anak Indonesia melawan COVID-19 dapat diintegrasikan dengan program Satgas COVID-19 dan Deda di tingkat desa, Rukun Tetangga maupun kampung.

Disamping itu sangat diperlukan melakukan sosialisasi dengan cara menyebarkan brosur dan stiker tentang ajakan mengurangi resiko tekanan psikologi,  kekerasan bagi anak akibat dampak langsung COVID-19.

Dampak adanya pandemi COVID-19 yang di alami bangsa ini saat ini dapat dipastikan meningkatkan risiko pada anak dengan mengalami kekerasan atau perlakuan salah, eksploitasi serta penelantaran.

Situasi sulit berkepanjangan seperti ini bagi masyarakat keluarga dan anak mempunyai dampak jangka panjang yang mempengaruhi kesehatan psikologis dan masalah sosial anak apa lagi didalam situasi COVID-19 ini.

Oleh sebab itu Komnas Perlindungan Anak sebagai institusi kumpulan dari lembaga-lembaga Perlindungan Anak yang ada di Indonesia yang diberi tugas untuk memberikan advokasi pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia,  sejak merebaknya pandemic COVID-19 memberikan perhatian secara utuh kepada anak-anak yang rawan dan berpotensi menjadi korban virus corona.

Oleh karena itu kegiatan-kegiatan yang dilakukan Komnas Perlindungan Anak dengan mengambil tema memperteguh anak Indonesia melawan COVID-19 dengan cara mengorganisir masyarakat mengumpulkan bahan makanan dan sembako di luar ASI bagi balita dan makanan-makanan yang bersifat meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh anak-anak.

Pada kesempatan itu itu,  Komnas Perlindungan Anak juga memberi pesan-pesan moral agar keluarga bersama anak-anak mampu dan teguh menghadapi serangan virus Corona dan sosialisasi komitmen untuk  untuk tidak melakukan tindakan kekerasan pada anak dalam mengimplementasikan kebijakan anak di rumah saja  dan anak harus ditempatkan  sebagai anak yang membutuhkan perlindungan dari orangtua, masyarakat pemerintah dan negara  serta semua pihak termasuk media dan tokoh agama dan alim ulama.

Dalam kesempata ini, Komnas Perlindungann Anak berharap demi kepentingan terbaik dan kesehatan anak, mengajak semua mitra kerja Komnas  perlindungan anak yakni LPA di seluruh Nusantara membangun kerjasama dengan Dinas Sosial dan PPPA untuk program Merperteguh Anak Indonesia melawan pandemi COVID 19.

“Dengan cara membangun komitmen melawan virus corona terpadu dan berbasis keluarga ramah dan bersahat dapat dipastikan corona cepat berlalu, sehingga kehidupan dan interaksi sosial masyarakat dan anak-anak berjalan normal,” desak Arist.

RED

Share.

About Author

Leave A Reply