Setelah Geledah Rumah Kepala KPU Batam, Kejagung Periksa 7 Saksi

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Terkait adanya dugaan Korupsi, Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jam-Pidsus) Kejaksaan Agung RI, melakukan pemeriksaan terhadap 5 orang saksi, di Kejaksaan Negeri (Kejari) Batam, Kepulauan Riau, Selasa (12/05).

Ke 5 saksi yang diperiksa itu masing-masing:

  1. Susila Brata selaku Kepala Kantor Pelayanan Utama (Ka.KPU) Bea dan Cukai Batam
  2. Yosef Hendriyansah selaku Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai I KPU Bea dan Cukai Batam.
  3. Rully Ardian sebagai Kepala Fasilitas Pabean dan Cukai KPU Bea dan Cukai Batam.
  4. Bambang Lusanto Gustomo sebagai Kepala Bidang Pelayanan Fasilitas Kepabeanan dan Cukai II KPU Bea dan Cukai Batam.
  5. M. Munif Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan I KPU Bea dan Cukai Batam.

“Kelima saksi itu diperiksa terkait Perkara Dugaan Tipikor Penyalahgunaan Kewenangan Dalam Importasi Tekstil pada Direktorat Jendral (Ditjen) Bea dan Cukai Tahun 2018 sampai 2020,” ujar Kapuspenkum Kejagung RI Hari Setiyono SH MH.

Kapuspenkum mengatakan bahwa dalam kasus ini belum ada tersangkanya. “Sampai saat ini masih dalam penyelidikan,” ujar Kapuspenkum menjawab pertanyaan radaronline.id.

Dugaan adanya Tindak Pidana Korupsi dalam proses import tekstil tersebut berawal pada tanggal 2 Maret 2020, ditemukan 27 kontainer milik PT. FIB (Flemings Indo Batam) dan PT. PGP (Peter Garmindo Prima) ditegah oleh Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tanjung Priok dan didapati ketidak sesuaian mengenai jumlah dan jenis barang antara dokumen PPFTZ-01 keluar dengan isi muatan hasil pemeriksaan fisik barang. Dan setelah dihitung terdapat kelebihan fisik barang, masing-masing untuk PT. PGP sebanyak 5.075 roll dan PT. FIB sebanyak 3.075 roll.

“Selain itu didalam dokumen pengiriman disebutkan kain tersebut berasal dari Shanti Park, Myra Road, India dan kapal pengangkut berangkat dari Pelabuhan Nhava Sheva di Timur Mumbai, India. Namun faktanya kapal pengangkut tersebut tidak pernah singgah di India dan kain-kain tersebut ternyata berasal dari China,” terang Hari Setiyono.

Kemudian diuraikannya, bahwa fakta yang sebenarnya kontainer berisi kain brokat, sutra dan satin tersebut berangkat dari Pelabuhan Hongkong, singgah di Malaysia dan berakhir di Batam. Dan pada saat kapal tiba di Batam, kontainer berisi tekstil milik importir PT. FIB dan PT. PGP tersebut kemudian di bongkar dan dipindahkan ke kontainer yang berbeda di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) di Kawasan Pabean Batu Ampar tanpa pengawasan oleh Bidang P2 dan Bidang Kepabeanan dan Cukai KPU Batam.

Selanjutnya setelah seluruh muatan dipindahkan ke kontainer yang berbeda, kemudian kontainer asal tersebut diisi dengan kain lain yang berbeda dengan muatan awalnya, yaitu diisi dengan kain polister yang harganya lebih murah dan kemudian diangkut menggunakan kapal lain menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Dan sesampainya di Pelabuhan Tanjung Priok kontainer tersebut rencananya akan dikirim ke alamat tujuan yaitu Kompleks Pergudangan Green Sedayu Bizpark Cakung Jakarta Timur,” ungkap Kapuspenkum.

Selain melakukan pemeriksaan saksi, tambah Kapuspenkum, sebelumnya Tim Penyidik telah melakukan pengeledahan di 2 tempat pada hari Senin tanggal 11 Mei 2020 sekira pukul 12.51 WIB yang pertama di rumah Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Batam atas nama Susila Brata di Komplek Bea Cukai Jln. Bunga Raya Baloi Indah Kota Batam dan yang kedua penggeledahan di rumah Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (Kabid-P2) KPU Bea dan Cukai Batam atas nama M. Munif. Dari penggeledahan tersebut untuk sementara diamankan 3 (tiga) buah Hand Phone, 1 buah flasdisk.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply