Agus Butabutar Memohon Hakim Membebaskan Dirinya dan Menghukum Berat Pendeta Sumpah Palsu

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Terdakwa Agus Butarbutar ST SH MM MH., (55), warga Pluit, Jakarta-Utara, dalam pledoi (pembelaan) nya memohon kepada Majelis Hakim untuk dibebaskan dari tuntutan hukum dan segala akibatnya sebagaimana dalam dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Swartin Polembi SH MH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Dakwaan dan tuntutan JPU itu menurut Agus Butarbutar adalah dakwaan yang ngaur alias asal dibuat-buat, tidak profesional. Karena JPU mendakwa dan menjatuhkan hukuman kepadanya tidak sesuai dengan fakta-fakta persidangan, melainkan berdasarkan rekayasa dan pesanan.

“Jaksa memaksakan kehendaknya kedalam persidangan dan melawan hati nuraninya sendiri oleh karena sesuatu janji atau pesanan,” katanya.

JPU dalam surat dakwaan dan tuntutannya mengatakan bahwa terdakwa Agus Butarbutar (55) dijatuhkan hukuman selama 2 tahun pidana penjara, dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara, dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan, karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana: menyuruh menempatkan keterangan palsu kedalam akta otentik dan menyuruh surat/ akta otentik palsu secara bersama-sama sebagaimana diatur dalam Pasal 266 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1KUHP dan Pasal 264 ayat (1) KUHP Jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Majelis Hakim yang mulia, mohon saya dibebaskan dari dakwaan dan tuntutan Jaksa, karena saya tidak ada sangkut pautnya dengan perkara ini sebab tidak ada orang yang saya rugikan. Apalagi pelapor sendiri dalam kesaksiannya mengatakan tidak melaporkan saya dan tidak mengenal saya. Terkait kesaksian terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea supaya diabaikan saja, karena kesaksian nya itu adalah dibawah sumpah palsu. Ini murni kriminalisasi majelis, mohon dengan hormat agar saya dibebaskan,” ujar Agus Butarbutar dalam pledoinya dihadapan Ketua Majelis Hakim Agung Burbantoro SH MH dengan anggota Dodong Rusdani, SH, MH dan Tugiyanto, SH, MH yang disidangkan melalui Video Teleconverence (Vidcon) dari Rutan Cipinang dan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta- Pusat, Senin (04/05).

Menurut Agus Butarbutar bahwa permohonan untuk dibebaskan dari tuntutan hukum dan segala akibatnya itu adalah berdasarkan fakta fakta hukum yang terungkap dipersidangan sebagaimana yang diterangkan saksi-saksi dipersidangan terutama dua saksi utama, saksi pelapor, yakni:

  1. Saksi pelapor Martin Adam (45) dan Suzane Liane anak dari alm Basri Sudibyo. Keterangan Saksi Pelapor MARTIN ADAM, pada tanggal 02 maret 2020 mengatakan: Tidak melaporkan Agus Butar Butar ; Tidak kenal Agus Butarbutar; Tidak ada hubungan kerjaan dengan Agus Butarbutar; Tidak ada hubungan saudara dengan Agus Butar Butar.

Dan pada saat sidang, majelis meminta saksi Martin Adam mendekat ke meja majelis untuk menyaksikan bukti putusan Perdata Pengadilan Negeri Jakarta Utara, bulan November tahun 2019 tentang permohonan pengesahan pernikahan Juniar dan alm Basri Sudibyo, bahwa nama Agus Butarbutar tidak ada tercatat. Yang ada di surat itu adalah nama Pdt. Muhammad Husein Hosea (sebagai saksi).

  1. Keterangan saksi Pelapor SUZANE LIANE, pada tanggal 04 Maret 2020 mengatakan:
    Tidak melaporkan Terdakwa Agus Butarbutar;
    Tidak kenal Agus Butarbutar;
    Tidak ada hubungan kerjaan dengan Agus Butarbutar;
    Tidak pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Agus Butarbutar.

3. Keterangan saksi Notaris Grace Parulian Hutagalung, pada tanggal 9 maret 2020 pada pokoknya menerangkan:
Tidak mengenal Agus Butarbutar ; tidak ada hubungan saudara dengan Agus Butar butar; Tidak ada hubungan pekerjaan dengan Agus Butar Butar; Tidak pernah berkomunikasi dengan Agus Butar Butar.

4. Keterangan Saksi AGUS, Sopir Alm.BASRI SUDIBYO, 11 Maret 2020 mengatakan tidak mengenal Agus Butarbutar; Tidak ada hubungan saudara dengan Agus Butarbutar; Tidak ada hubungan pekerjaan dengan Agus Butarbutar; Tidak pernah berkomunikasi dengan Agus Butarbutar.

Sementara ada 2 saksi lainnya yang tidak bisa dihadirkan JPU dipersidangan, keterangannya di BAP itu dibacakan saja. Dan keterangan kedua saksi itu disebutkan Agus hanyalah asumsi atau ilusi semata bukan fakta sehingga tidak perlu dituangkan dalam pledoi.

5. Keterangan Saksi mahkota Terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea (berkas perkara terpisah) yang telah menikahkan terdakwa Juniar alias Vero dengan alm Drs. Basri Sudibyo yang menjadi sumber perkara ini dianggap adalah kesaksian sesat, rekayasa dan yang telah melanggar sumpah janji sebagai saksi karena seorang yang berpredikat Pendeta tidak boleh bersumpah palsu.

Pasalnya, Pdt. Muhammad Husein Hosea dijadikan tersangka oleh penyidik POlda Metro Jaya karena mengaku yang telah menikahkan Juniar alias Vero dengan Drs Basri Sudibyo pada tgl 11 February 2017 sehingga dia disangka melakukan pelanggaran terhadap pasal 266 ayat (1) dan ayat (2) Jo. Pasal 244 KUHP Jo. Pasal 55 ke-1 KUHP; “menyuruh menempatkan, keterangan palsu kedalam akta otentik, dan menyuruh membuat surat/ akta otentik palsu, secara bersama-sama.

Laporan itu dibuat oleh saksi pelapor Martin Adam dan Suzane Liane karena mereka berdua berpendapat bahwa pernikahan ayahnya (alm. Drs. Basri Sudibyo) semasa hidupnya tidak pernah menikah dengan terdakwa Juniar alias Vero yang dinikahkan oleh terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea karena acara pemberkatan pernikahan itu tidak pernah mereka saksikan.

Sementara keterangan terdakwa Juniar alias Vero hanya Martin Adam dan Suzane Liane yang tidak mengijinkan hubungan atau melarang hubungannya dengan Basri Sudibyo. Sementara keluarga lainnya mendukung hubungan Juniar dengan Basri Sudibyo, termasuk adik kandung Basri Sudibyo yang bernama Imelda Rini Wahyuni.

“Bahkan adik kandung almarhum Basri Sudibyo yaitu Imelda Rini Wahyuni sempat tinggal bersama dengan saya di pantai mutiara Blok R-48 Pluit Jakarta Utara dan Imelda Rini Wahyuni sempat menyatakan Agus Butarbutar diangkat menjadi adik kandungnya. Imelda Rini Wahyuni dan sampai meninggal tanggal 24 September 2019 kamilah yang merawat dan mengurus pemakamannya di Menteng Pulo Jakarta selatan,” ujar Juniar didepan persidangan saat diperiksa sebagai saksi baik sebagai terdakwa.

Adapun pembuatan Akte nikah antara Juniar alias Vero dengan alm ayahnya Basri Sudibyo, menurut Martin Adam ada motivasi lain yakni bahwa Terdakwa Juniar alias Vero dan Agus Butarbutar ingin menguasai sertifikat tanah seluas 2000 M2 yang berlokasi di Jakarta Selatan yang sedang dikuasai terdakwa Juniar.

Itulah alasan Martin Adam dan Suzane Liane menggugat akte pernikahan itu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Sayangnya, gugatan Martin Adam itu ditolak PN Jakarta Utara, dengan amar putusan bahwa Catatan Sipil Pernikahan Drs. Basri Sudibyo dan Juniar alias Vero sah karena sudah dilengkapi admistrasi yang sah yakni adanya Akte pernikahan dan disaksikan Pdt. Muhammad Husein Hosea.

Pdt. Muhammad Husein Hosea juga membuat Surat pernyataan yang ditandatangani diatas materai 6000, yang mengatakan bahwa dialah yang melakukan pemberkatan nikah antara Juniar alias Vero dengan Alm. Basri Sudibyo.

Namun ditengan proses persidangan, setelah majelis Hakim mengabulkan permohonan pengalihan penahanan terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea dari tahanan RUTAN menjadi Tahanan Kota, perilakunya menjadi berubah 180 derajat.

Perubahan perilaku dan keterangan terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea terungkap dipersidangan saat dia menjadi saksi untuk Terdakwa Agus Butarbutar dan Juniar alias Vero. Demikian juga saat dia diperiksa sebagai terdakwa. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menikahkan terdakwa Juniar alias Vero dengan Basri Sudibyo.

Sehingga Ketua Majelis Hakim Agung Purbantoro SH MH mempertanyakan keterangan Pdt. Muhammad Husein Hosea yang berbalik 180 derajat itu.

Hakim: saudara saksi (Pdt. Muhammad Husein Hosea), apa alasan anda berubah sekarang? Ingat anda adalah juga terdakwa dalam perkara ini. Yang dijawab: saya hanya menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya pak hakim.

Hadirin yang mengikuti persidangan pun terperangah mendengar keterangan Pdt. Muhammad Husein Hosea yang tiba-tiba berubah.

Selanjutnya Hakim menanyakan Pdt. Muhammad Husein Hosea: kapan bertemu dengan Agus Butabutar? Dijawab Pdt. MH. Hosea; 4 sampai 5 bulan yang lalu (artinya bulan November 2019), karena Pdt. Muhammad Husein Hosea bersaksi pada bulan April 2020, saat menjadi saksi untuk untuk Terdakwa Agus Butarbutar.

Sementara pertemuan pertama Agus dan Pdt. Muhammad Husein Hosea adalah dibulan April-Mei 2019.

Pada persidangan itu Pdt. Muhammad Husein Hosea sempat membuat gaduh persidangan dengan gaya purbi (purak-purak bingung) dan purpi (purak-purak pikun) sehingga Majelis Hakim dibuat kesal. Sangkin kesalnya hakim melihat tingkah laku Pdt. Hosea itu, Hakim sampai mengeluarkan kata-kata ancaman: Akan mengembalikan Pdt. Muhammat Husein Hosea ke RUTAN Cipinang apabila tidak tertib dipersidangan.

Bahkan hakim meminta anak Pdt. Muhammad Husein Hosea yang ada diruang persidangan untuk ikut menenangkan ayahnya (Pdt.MH.Hosea).

Menurut Pdt. DR. Yohanes A. Tahapary, SAKP. MTH.MM. bahwa seorang pendeta adalah panutan umat. Pendeta dilarang keras melakukan perbuatan bohong di bawah sumpah, tidak boleh! Hal itu sesuai dengan bunyi alkitab Imamat: 19 ayat 12, “Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu, Akulah Tuhan”.

Pdt. Muhammad Husein Hosea sudah 2 kali bersumpah palsu sebagai saksi di hadapan persidangan pidana yang terbuka untuk umum saat diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Agus Butarbutar dan Juniar alias Vero, dan satu kali dia bersumpah sebagai saksi di pengadilan dalam penetapan pengesahan pernikahan Juniar alias Vero dengan Basri Sudibyo di PN Jakarta Utara.

“Ini adalah perbuatan tercela dan yang sangat memalukan. Baru ini kejadian pertama di republik ini seorang yang berpredikat pendeta membuat sumpah dusta dihadapan persidangan,” ujar Pdt. DR. Yohanes A. Tahapary menanggapi pemberitaan pendeta bersumpah palsu.

Oleh karena itu terdakwa Agus Butarbutar sangat yakin bahwa majelis hakim akan membebaskan dirinya dan menghukum berat terdakwa Pdt. Muhammad Husein Hosea akibat kebohongan-kebohonganya dipersidangan.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply