Pradi Rindu Anaknya Sedang Kuliah di Spanyol

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, KOTA DEPOK – Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna membenarkan, bahwa dirinya sangat rindu dan khawatir kepada anaknya yang sedang berlajar di Conservatorio de Musica de Las Palmas, Gran Canaria, España. (Spanyol).

“Benar, saya rindu sekali serta khawatir dengan kondisi anaknya. Sebagai orangtua pasti khawatir, tapi saya yakin pemerintah dan warga di sana baik. Selain itu juga, saya selalu berdoa kepada Allah SWT semoga dia sehat, serta kepada kita semua sehat,” ucap Pradi, Minggu (29/3).

Pradi menambahkan, bahwa Spanyol merupakan negara Eropa dengan angka tertinggi kasus Covid-19 setelah Italia dan China. Setelah kacaunya pandemi Covid-19 di Italia, seluruh Eropa semakin waspada dan disiplin mencegah penyakit ganas ini.

“Sedangkan di Italia, ketika pemerintah menerapkan liburan nasional, warga banyak yang menggunakannya untuk berpesta, ke bar, ataupun ke pantai sehingga penyebaran covid-menjadi lebih masif,” pungkas orang nomor dua di Kota Depok itu.

Sementara itu, Pevita Pradinda putrinya Pradi, yang sedang menimba ilmu di Spanyol. Pevita sedang belajar tahun ketiga di Conservatorio de Musica de Las Palmas, Gran Canaria, España, bercerita dalam masa kuliahnya Pevita tinggal di daerah perkampungan alami pada sebuah keluarga dokter sehingga tidak terlalu kontras nuansa lockdown-nya.

” Jadi saat ini, sudah diberlakukan Lockdown di seluruh wilayah Kerajaan Spanyol yang sudah berlangsung 14 hari. Namun, ia sudah mengisolasikan diri secara mandiri selama 17 hari belakangan ini.

“Alhamdulilah, saya sehat, baik baik saja. Saya sudah tidak keluar rumah lagi sudah 17 hari,” ujar Pevita mengabarkan ke ayahnya melalui vidio colnya.

Dia menjelaskan, bahwa Kerajaan Spanyol menerapkan lockdown yang tegas dengan sanksi yang keras berupa denda minimal 200 euro atau sekira Rp 3,6 juta.

“Artinya, sanksi ini berlaku bagi siapa saja yang keluar rumah di masa kebijakan lockdown untuk mencegah penularan Covid-19. Secara terbatas dengan pengawasan ketat, warga hanya boleh keluar untuk berbelanja kebutuhan konsumsi di pasar, ke bank, apotik, atau membawa jalan hewan peliharaannya di jaling terdekat,” jelas Pevita.

Menurutnya, bahwa di tempat studinya ini ada sekira 35 warga negara Indonesia. Kedutaan Besar Indonesia dan Konsulat Jenderalnya, aktif memperhatikan dengan rajin memantau dengan telepon menanyakan keadaan kesehatan warganya.

“Alhamdulillah dari kedutaan sangat perhatian, kami setiap hari dihubungi via telepon. Jika ada sesuatu yang darurat pasti dibantu,” tutur Pevita.

Dia juga menceritakan, bahwa selama dalam isolasi ketat ini sama seperti perkuliahan di Indonesia, pelajaran pun diubah menjadi sistem online. Namun dengan konsekuensi pekerjaan rumah banyak. Awal-awalnya pelajar sempat panik dengan tugas, tapi selanjutnya mulai sadar dan menyesuaikan diri bahwa lockdown ini untuk menjaga kesehatan.

“Bahkan di pasar pun, cara belanja diatur rapi, masuk ke dalam pasar secara bergantian, antri dengan jaga jarak dengan orang per orang dua meter. Jika ada tampak orang berkerumun adalah di luar pasar oleh orang yang menantikan giliran berbelanja,” papar Pevita.

Pevita menambahkan, mungkin jumlah korban akibat Corona cukup tinggi, maka Kerajaan Spanyol pun sedang menyiasati penanganan medis kepada kemungkinan banyaknya orang yang terjangkit Covid-19. Sedang tenaga medis masih dalam rasio memadai.

“Selain itu, di Spanyol setiap pukul 19.00 sampai 20.00 malam waktu setempat, ada tradisi tepuk tangan dari warga sebagai dukungan sebagai tanda hormat untuk para medis,” ujar Mahasiswi yang sedang belajar seni musik klasik itu.

MAULANA SAID

Share.

About Author

Leave A Reply