Sulit Membuktikan Dakwaan Jaksa, Tiga Saksi Pelapor Tidak Mengenal Terdakwa

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Semakin Sulit Membuktikan Dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap terdakwa Agus Butarbutar dikarenakan tiga saksi yang sudah diperiksa dipersidangan mengatakan tidak mengenal terdakwa. Sementara untuk menghubungkan dakwaan kepada terdakwa adalah keterangan saksi-saksi, terutama saksi pelapor.

” Kami tidak perlu bertanya kepada saksi itu karena saksi itu tidak mengenal klien kami,” ujar Advokat Halim SH kepada wartawan usai sidang pemeriksaan saksi Notaris Gres Parulian Hutagalung, SH di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (9/3).

Menurut Advokat Halim, kliennya (Agus Butarbutar) tidak perlu menanggapi kesaksian notaris itu. Karena notaris tidak mengenal terdakwa Agus Butarbutar.

“Sudah tiga saksi yang diperiksa dipersidangan semua mengatakan tidak mengenal terdakwa, jadi apa kolerasi dakwaan dengan para saksi? Bahkan pelapor sendiri mengatakan tidak pernah melaporkan terdakwa,” ungkap Halim.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suwartin Polembi, SH, MH, Magdalena Manjorang, SH, Erma Octora, SH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menghadirkan saksi Gres Parulian Hutagalung (Notaris) yang menjadi notaris dalam pembagian warisan harta peninggalan almarhum Basri Sudibyo orang tua dari Martin Adam dan Suzane Liane (saksi pelapor).

Notaris Gres Parulian Hutagalung, SH dalam persidangan mengaku tidak mengenal terdakwa Agus Butarbutar.

“Sudahlah, kan saksi ini tidak mengenal anda (terdakwa) ngapain anda bertanya? Ini sudah jelas ga mengenal anda jangan ditanyakan apa gunanya?” Ujar Anggota Majelis Hakim Firman SH menimpali perkataan terdakwa yang mengatakan bahwa keterangan saksi Notaris ada yang benar dan ada yang tidak benar.

“Keterangan saksi ini bukan untuk saudara terdakwa. Keterangan saksi hanya menceritakan adanya hubungan saksi dengan almarhum Basri Sudibyo dengan anaknya Martin Adam dan Suzane Liane dan juga untuk terdakwa Juniar (berkas terpisah),” ujar Firman.

Sebelumnya Ketua Majelis Hakim Agung Purbantoro sudah benyak bertanya kepada Saksi Notaris Gres termasuk dokumen dokumen waris yang dibuat 50:50 persen pembagian warisan itu. Namun dalam surat warisan itu tidak dirinci item pembagian. Hanya global harta yang dibagi 50:50 persen.

Pada agenda persidangan sebelumnya: Senin dan Rabu pekan lalu, saat pemeriksaan saksi Martin Adam dan saksi Suzane Liane menerangkan tidak mengenal terdakwa Agus Butarbutar. Bahkan kedua saksi pelapor itu mengaku tidak melaporkan terdakwa Agus Butarbutar.

Jaksa Penuntut Umum (JPU), Suwartin dalam dakwaannya menyebutkan, sekitar tahun 2015 hingga 2018, terdakwa Juniar seorang terapis mempunyai hubungan dengan pasiennya almarhum Basri Sudibyo. Tahun 2017 ke tiga terdakwa di duga merekayasa perkawinan antara Juniar dengan Sudibyo sehingga seolah olah perkawinan tersebut sah dilakukan di suatu Gereja. Akan tetapi akta perkawinan antara Juniar dengan Sudibyo diduga palsu.

Sementara akta tersebut digunakan terdakwa untuk menguasai sebidang tanah yang berlokasi di Jakarta Selatan bernilai 40 miliar rupiah, sehingga merugikan ahli waris almarhum Sudibyo, kata Jaksa.

Basri Sudibyo yang saat itu tahun 2015 memiliki riwayat penyakit stroke, sebelum meninggal pernah menitipkan sertiflkat tanah sekitar 1.600 M itu kepada terapisnya Juniar. Sementara Martin ahli waris Sudibyo mengaku tidak mengetahui alasan penitipan surat sertiflkat tersebut dan tidak pernah mengetahui pernikahan ayahnya dengan terapisnya itu, sehingga dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Sebagaimana kronologis kejadian perkara, dalam proses penguasaan surat tanah tersebut, terdakwa Juniar menghubungi dan memberitahukan Agus Butarbutar sekiranya ada yang bisa memalsukan akta perkawinan nya dengan Sudibyo. Karena diduga sudah ada niat untuk menguasai tanah almarhum, Agus dan Juniar yang saat ini sudah menjadi suami isteri itu bergegas memperkenalkan Juniar dengan M. Husen Hosea di sebut sebut seorang pendeta di Gereja di Bogor, Jawa Barat.

Surat akta pernikahan bisa di dapat, namun sesuai hasil penyidikan saat di Polda Metro Jaya, M.Husen Hosea tidak bisa menunjukkan pengangkatan SK Pendetanya sehingga akta pernikahan itu diduga palsu. Atas perbuatan ke tiga terdakwa, mereka di jerat dengan pasal berlapis yakni pasal 263, 264, 266, dan 242 Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana KUHP.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply