PN Jakarta Utara Belum Memberikan Keadilan Kepada WNI

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara belum memberikan rasa keadilan kepada Warga Negara Indonesia yang menjadi korban peredaran gelap Narkotika.

Hal itu disampaikan Sandro Manurung SH., kepada radaroinle.id usai majelis hakim menjatuhkan vonis seumur hidup terhadap terdakwa Dwi Nery Wahyudianto di ruang sidang PN Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (27/2).

” Kami selaku kuasa hukum terdakwa Dwi Nary Wahyudianto merasa kecewa atas hukum yang dijatuhkan majelis hakim. Terlalu berat hukuman yang dijatuhkan hakim kepada Klien kami. Seharusnya majelis hakim dalam menjatuhkan putusan berdasarkan hasil yang terungkap dipersidang. Janganlah melihat barang bukti, tetapi kita harus melihat peran masing-masing dalam kasus tersebut,” ujar Sandro Manurung SH dengan kecewa.

Menurut Sandro bahwa terdakwa Dwi Nery tidak mengetahui sama sekali kalau dirinya telah terjebak sindikat narkoba. Terdakwa hanya seorang lulusan SD yang diangkat menjadi Direktur CV Hitec Mac And Parts Trading (HMAPT), tidak mengerti dan sama sekali tidak mengerti apa tujuannya dia diangkat jadi direktur. Yang dia tahu kalau dirinya sebagai penjaga kantor dan digaji.

“Terdakwa Dwi Nery disuruh mengambil barang elektronik ke gudang. Lalu membawa ke kantor yang sudah disewanya. Dan saat itu bahwa dirinya telah dikawal dua orang anggota satnarkoba Polda Metro jaya. Bayang kan saja, sangkin polosnya dia mau mengambil barang itu tanpa ada rasa curiga terhadap orang yang sedang bersamanya satu kendaraan. Sebab barang speaker yang pertama yang diambilnya sebelumnya tidak mempunyai masalah, sehingga terdakwa Dwi Nery mengikuti saja apa yang diperintahkan,” ungkap advokat Sandro.

Keluarga terdakwa Dwi Nery Wahyudianto menangis dengan mengeluarkan air mata di dalam ruang persidangan begitu terdakwa dihukum mati dan seumur hidup. Istri dan ibundanya Dwi Nery sangat menyayangkan putusan itu.

Ketua Majelis Hakim Ramses Pasaribu dengan Hakim Anggota Tiaris Sirait, SH MH dan Narsongko, SH menjatuhkan hukuman mati terhadap terdakwa Mah Kah Jin alias Gordon alias Jordan, Adrian Tan Teik Heng alias Jack, (WNA) Malaysia, dan hukuman seumur hidup terhadap terdakwa Dwi Nery Wahyudianto bin Kasad (WNI), di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2020).

Dihadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eko Nurlianto, SH, dan Penasehat Hukum para Terdakwa Ramses mengatakan bahwa para terdakwa di jatuhkan hukum mati dan hukuman seumur hidup karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar pasal Pasal 113 ayat (1) UU-RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika, yakni memiliki, menguasai, mengimpor dan menyimpan narkotika sebanyak 32 kg jenis sabu-sabu tanpa hak.

“Hal-hal yang memberatkan, bahwa terdakwa Gordon dan Adrian telah mengedarkan Narkotika antar negara dari Malaysia ke Indonesia dan dia tahu bahwa narkotika dilarang diedarkan di Indonesia. Hal yang meringankan tidak ditemukan dalam persidangan. Sementara terhadap terdakwa Dwi Nery telah ikut terlibat menjadi antek orang asing. Dan tidak mendukung program pemerintah Indonesia dalam pemberantasan peredaran gelap Narkotika,” tegas Ramses Pasaribu.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply