Kemensos: Aksi Mbah Sudiro dan Kodir Menginspirasi Kerelawanan Nasional

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, SLEMAN – Pemerintah melalui Kementerian Sosial memberikan penghargaan kepada Mbah Sudiro dan Darwanto alias Mas Kodir yang melakukan aksi penyelamatan siswa-siswi SMPN 1 Turi dalam kegiatan Susur Sungai Sempor, menerima penghargaan, hari ini, Selasa (25/2).

Mewakili Menteri Sosial Juliari P. Batubara, Direktur Perlindungan Sosial Korban Bencana Alam Kemensos RI Rachmat Koesnadi mengatakan setelah mendengar dan membaca berita dari media mengenai sosok Mbah Sudiro dan Mas Kodir, Menteri Sosial Juliari P Batubara memerintahkan jajarannya untuk memberikan penghargaan kepada kedua penolong siswa-siswi SMPN 1 Turi, Sleman.

“Pak Mensos sangat memberikan perhatian kepada warga yang telah melakukan aksi kemanusiaan seperti kepada mas Kodir dan Mbah Sudiro,” kata Rachmat.

Rachmat menambahkan naluri kemanusiaan yang dimiliki oleh mas Kodir dan mbah Sudiro, adalah modal terbesar dalam segala aspek sosial dan kemanusiaan.

“Kami sangat mengapresiasi kerja kemanusiaan teman- teman semua, khususnya kepada Mas Kodir dan pak Sudiro. Kalau tidak ada mereka, mungkin korban bisa lebih. Terima kasih banyak pak,” ucapnya.

Keduanya mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan uang tunai sebesar Rp 10.000.000.

Acara pemberian penghargaan tersebut bersamaan dengan kegiatan Sosialisasi Program Restorasi Sosial Kemensos RI, serta peresmian Sekretariat Relawan Sembada oleh Bupati Sleman, Sri Purnomo.

Kementerian Sosial juga mengapresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh relawan yang terlibat dalam seluruh operasi penyelamatan serta proses evakuasi pada kejadian susur sungai Sempor.

Berat Menerima Penghargaan
Mbah Sudiro sendiri mengaku berat menerima penghargaan tersebut karena ada banyak warga lainnya yang turut membantu proses evakuasi. Untuk itu, uang penghargaan yang ia terima akan dibagikan kepada warga yang ikut membantu.

“Sangat berat menerima, karena yang kerja bukan hanya saya tapi masyarakat semua. Kebetulan yang tercatat saya sama mas ini. Uang ini saya bagikan dan saya sumbangkan untuk membangun masjid,” ungkap Sudiro.

Sementara Kodir mengaku tidak mengharapkan penghargaan ini. Ia mengaku menolong siswa yang hanyut karena peri kemanusiaan dan rasa tolong menolong.

“Ngga sanggup saya sebenarnya menerima ini. Niatnya kan karena kemanusiaan,” ungkapnya.

Kisah Heroik Penyelamatan
Nama Bang Kodir dan Mbah Sudiro menjadi sorotan publik atas aksi heroik yang mereka lakukan.

Mbah Sudiro yang usianya terbilang renta (71) berhasil menyelamatkan para siswa SMPN Turi yang hanyut di kegiatan susur sungai Sempor.

Ia rela turun ke sungai untuk menolong para siswa tersebut yang menjadi korban tragedi susur Sungai Sempor, Jumat (21/2) lalu.

Mbah Diro yang kala itu tengah membersihkan makam mendengar teriakan para siswa dari kejauhan. Namun, ia menyangka anak-anak yang bercanda. Lalu ia meminta anaknya untuk menghampiri asal teriakan tersebut. Selalu tidak berapa lama anak mbah Sudiro berteriak ada orang kintir (hanyut).

“Saya baru membersihkan makam. Saya sudah mau memperingatkan supaya naik saja karena cuaca tidak mendukung. Lalu sudah dengar anak-anak minta tolong. Anak saya langsung menghampiri, katanya anak-anak kintir (hanyut terbawa arus),” kata Sudiro,

Mendengar teriakan anaknya tanpa berpikir panjang Sudiro langsung menuju Sungai Sempor dan berjumpa dengan Darwanto, warga yang lebih dulu mengevakuasi siswa di lokasi kejadian.

“Saya langsung ikut membantu mengevakuasi dengan merangkul anak-anak ke tepi sungai. Saya gendong beberapa siswa yang sudah tak berdaya. Saat itu Arusnya memang cukup deras. Mungkin daerah atas sudah hujan deras, dan tiba-tiba air langsung tinggi. Itu yang membuat anak-anak terbawa arus. Ya cuma membantu sebisa saya saja. Ada yang cuma dipegangi saja, ada yang digendong,” jelasnya.

Dalam penyelamatan tersebut, Sudiro mengaku sempat ikut terhanyut terbawa arus sungai saat menyelamatkan korban. Namun, beruntung bisa berpijak pada batu dan berpegangan pada tangga panjang yang dibawanya.

“Saya sempat ikut hanyut, anak masih di punggung saya. Saya bisa pegangan, tetapi karena batu licin, jadi terpeleset, kaki kena luka,” ungkap Sudiro.

Selain mbah Sudiro, Darwanto alias Kodir juga melakukan penyelamatan. Ia merupakan pemancing yang pertama tiba sungai dengan membawa tangga untuk menyelamatkan siswa SMPN 1 Turi Sleman yang naas.

Dihari naas itu, Kodir baru berjalan 100 meter untuk memancing di sungai Sempor mendengar jeritan bersahut-sahutan. Sepertinya suara remaja laki-laki dan perempuan.

“Mereka teriak meminta tolong.
Seketika itu, saya membuang joran lalu berlari kencang menuju sumber suara. Teriakan kian jelas terdengar manakala ia tiba di atas tebing setinggi kisaran tiga meter dengan dasar sungai. Astaga,” kisahnya.

Berada di tebing setinggi tiga meter, tanpa berpikir panjang Kodir langsung menceburkan diri berjuang menyelamatkan siswa SMPN 1 Turi.

“Saya melihat anak-anak itu berjuang untuk bertahan dari gempuran arus. Langsung nyebur “Byuuur!”, kenangnya.

Kodir mengisahkan saat itu yang terpikirkan secepatnya meraih satu per satu anak untuk dibawa ke pinggir sungai. Siswa-siswi yang sedang memegangi batu di tengah ia prioritaskan.

“Ada lebih dari 20 anak saya evakuasi. Enam di antaranya sudah lemas. Mereka mayoritas perempuan. Mereka histeris dan menangis,” katanya.

Kodir rupanya tidak sendirian, Tri Nugroho adiknya seketika memberikan bantuan kepada siswa-siswi yang tengah berpegangab tebing dipinggir sungai.

“Adik saya, Tri Nugroho, ikut turun. Ia mengevakuasi mereka,” imbuh Kodir.

Setelah semua terevakuasi dan berada di atas tebing, Kodir coba mencari tangga bambu.

Ia mengambil tangga milik warga yang tinggal tak jauh dari lokasi.

“Saya menyeberangkan mereka ke jalur yang memungkinkan untuk dilalui. Proses evakuasi yang saya lakukan berlangsung lebih kurang tiga jam, pukul 14.30 sampai 17.30,” ungkapnya.

RED

Share.

About Author

Leave A Reply