BB 35 Gram Narkoba, Terdakwa Divonis 2 Tahun

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Ketua Majelis Hakim Oloan Harianja, SH MH dengan anggota Susilo Utomo, SH MH dan Indri Murtini, SH MH menjatuhkan putusan 2 tahun pidana penjara terhadap terdakwa Edwin Bin Musa Rorimpandey di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Senin (17/2).

Terdakwa Edwin dijatuhkan hukuman 2 tahun pidana penjara karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah memiliki narkotika golongan I seberat 35,93 gram tanpa hak sebagaimana diatur dalam Pasal 127 UU-RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Keberanian majelis hakim Oloan Harianja Cs menjatuhkan hukuman 2 tahun dengan menerapkan Pasal 127 menjadi pertanyaan besar oleh masyarakat, pasalnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Astri Rahmayanti, SH, dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara sebelumnya menjatuhkan tuntutan 14 tahun pidana penjara, denda 800 juta subsider 6 bulan, karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah memiliki 35,93 gram narkotika golongan I tanpa hak sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 112 ayat (2) UU-RI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Atas putusan majelis hakim itu, JPU Astri melakukan upaya hukum banding, karena menurutnya bahwa putusan yang dijatuhkan hakim itu tidak sesuai lagi dengan tuntutan keadilan sebagaimana diatur dalam Pasal 112 Ayat (2) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika, “Tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotika golongan I bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 (Lima) gram”.

Dosen Fakultas Hukum UKI Dr. Fernando Silalahi ST SH MH CLA, memuji JPU Astri Rahmayanti yang telah menjatuhkan tuntutan 14 tahun pidana penjara terhadap terdakwa Edwin Bin Musa Rorimpandey pemilik BB 35, 96 gram narkotika adalah wujud kepeduliannya terhadap bahaya narkoba terhadap kehidupan manusia, bangsa dan negara.

” Kita sangat prihatin bahwa Indonesia bukan lagi sekedar transit sindikat narkoba internasional, melainkan sudah menjadi market utama. Dengan penduduk 265 juta jiwa, cukup potensial untuk peredaran gelap narkoba. Dan itu dibuktikan dengan jumlah penghuni rutan dan lapas di Indonesia yang 75 persen adalah perkara narkoba. Kita sepakat pelaku narkoba dihukum berat,” ucap Fernando.

Lebih jauh dia menyampaikan bahwa akibat hukuman ringan yang di jatuhkan terhadap pelaku narkoba itulah sebabnya Indonesia menjadi surga bagi peredaran gelap narkoba, karena masih saja ada sejumlah oknum yang berkompromi terhadap pelaku pelaku narkoba.

“Kita mendukung jaksa yang menjatuhkan hukuman berat bagi pelaku narkoba,” pungkas Fernando Silalahi yang juga Advokat itu.

Terkait putusan itu ketua majelis hakim Oloan Harianja belum terkonfirmasi, sementara Humas PN Jakarta Utara belum memberikan jawaban atas konfirmasi RadarOnline.id.

“Maaf, hari ini saya belum sempat mendapatkan pertimbangan putusan majelis, karena mereka masih sidang,” ucap Humas PN Jakarta Utara Djuyamto SH MH. Selasa (18/2).

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply