Majelis Tidak Lengkap, Ketua PN: Terimakasih Masukannya!

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – “Terimakasih infonya,” ujar Ketua Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara Amin Ismanto, SH MH melalui SMS membalas SMS wartawan media ini yang memberitahukan bahwa ada perisidangan dengan majelis hakim tidak lengkap.

Ketua Majelis Hakim Purnawan Narsongko, SH menyidangkan perkara terdakwa Chaerudin yang terjerat kasus narkoba dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arif Suryana, SH menggelar persidangan dengan Majelis Hakim tidak lengkap.

Ketika hal itu diberitahukan kepada Ketua PN Jakarta Utara Amin Ismanto, SH MH selaku pimpinan tertinggi di PN Jakarta Utara yang melakukan pengawasan dan pembinaan kepada seluruh hakim, panitera dan pegawai pengadilan, mengatakan: terimakasih!

Hanya “Terimakasih” saja balasan SMS Ketua PN Jakarta Utara Amin Ismanto. Balasan SMS itu tidak lengkap. Pasalnya dalam SMS itu ada satu pertanyaan: Apakah diperbolehkan bersidang dengan majelis tidak lengkap? Pertanyaan itu tidak dijawab.

“Selamat sore Pak Ketua! Tadi Ketua Majelis Hakim Narsongko sidang tidak lengkap majelisnya. Apakah diperbolehkan sidang majelisnya tidak lengkap? Tadi ada 4 sidangnya dengan majelis tidak lengkap,” demikian isi SMS yang dikirimkan Media ini ke Ketua PN Jakarta Utara Amin Ismanto, SH, MH.

Persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Purnawan Narsongko, SH itu agaknya istimewa. Pasalnya, sidang pemeriksaan saksi, pemeriksaan terdakwa dan pembacaan surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sekaligus dalam satu persidangan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Arif Suryana dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Utara mengahdirkan terdakwa Chaerudin yang dijerat Pasal 114 ayat (2) UURI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika kepersidangan dalam agenda pemeriksaan saksi.

“Ini namanya sidang bagus. Efisien, menghemat waktu. Pantas diapresiasi!” ucap seorang pengunjung sidang yang tidak mau disebutkan namanya setelah menyaksikan persidangan kilat itu, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Jln. Gajah Mada, Jakarta Pusat, Rabu (30/10).

Agenda persidangan adalah pemeriksaan saksi polisi penangkap. Usai pemeriksaan saksi, dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Setelah pemeriksaan terdakwa, Jaksa Arif langsung membacakan surat Tuntutan.

“Terdakwa Chaerudin dijatuhi hukuman 9 tahun pidana penjara karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana menguasai, memiliki dan menjadi perantara jual beli narkotika tanpa hak Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (2) UURI No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” ujar JPU Arif Suryana, SH.

JPU Arif Suryana dalam dakwaannya menyebutkan terdakwa Chaerudin ditangkap Jumat 19 Juli 2019 di Lagoa, Koja, Jakarta Utara. Saat ditangkap ditemukan barangbukti 9 grm sabu dalam kotak Handphone. Terdakwa Chaerudin sebelumnya membeli sabu 20 gram dari Henny masuk daftar pencarian orang (DPO) untuk diperjual belikan. BB 9 grm itu merupakan sisa dari 20 gram yang dibeli sebelumnya.

Terdakwa Chaerudin dipersidangan mengaku tidak tahu kalau menjual narkoba harus pakai ijin.

Ketua Majelis Hakim Purnawan Narsongko, SH sempat menegur JPU Arif Suryana karena dianggap tidak menguasai berkas perkara yang ditangani.

“Saudara jaksa, dimana itu si Henny? Jaksa kok ga nguasai dakwaan?” ucap Purnawan Narsongko.

“Ya sudah, toh terdakwa sudah mengakui semua perbuatannya. Mau dituntut brapa? Yang kemarin kan 5,5 grm dituntut berapa itu? Trus sekarang tuntut 8 atau 9,” ujar Purnawan Narsongko menyetujui pembacaan tuntutan. Kemudian Arif Suryana mebacakan surat Tuntutannya.

Peradilan yang sederhana cepat, dan biaya ringan itulah tujuan pembuat hukum. Yang menjadi pertanyaan: kapan rentutnya diajukan? Apakah boleh mengajukan rentut sebelum memeriksa saksi-saksi dan memeriksa terdakwa?

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply