Sengketa Pembelian Excavator 350 Deaclock di Sidang BPSK

Pinterest LinkedIn Tumblr +

Itu satu dokumen bukti tanpa tandatangan dan tanpa stemple dari PT Indrotruck Utama yang disangkal Alfin /Arwan Koty.

RadarOnline.id, JAKARTA – Sengketa jual beli Excavator D-350-DL seharga Rp.2.360.000.000. antara Alfin (pembeli) dengan PT. Indotruck Utama (penjual) telah menemukan jalan buntu (deadlock) di sidangkan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Prov. DKI Jakarta, di Kantor BPSK Prov DKI Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (24/10).

“Deadlock! Tidak ada solusi. Kedua belah pihak tidak menemukan solusi dari proses persidangan selama ini. Masing-masing mempertahankan argumennya,” ucap Wili Brodus yang didampingi rekannya Tio selaku penasehat hukum Alfin dan keluarga.

Dalam sidang tersebut, kedua pihak bersengketa tidak mencapai kesepakatan. Alfin melalui penasehat hukum nya menuntut refund atau pengembalian dana pembelian excavator Rp.2,360 miliar, karena sejak 27 Juli 2017 dimana Perjanjian Jual Beli (PJB) ditandatangani antara Alfin dan pihak PT. Indotruck Utama belum ada serahterima, hingga sengketa ini sampaidilimpahkan ke BPSK.

Sementara PT. Indotruck Utama meyakini telah mengirimkan unit Excavator itu ke Nabire Papua dan sudah ada yang menerima di Nabire, sehingga menawarkan untuk melakukan excavator secara langsung ke Nabire, Papua termasuk menanggung biaya akomodasi keluarga Alfin/keluarga ke Nabire.

Pihak Alfin menolak tawaran tersebut karena subtansi dari permasalahan adalah tidak adanya serah terima Excavator yang wajibnya harus dilaksanakan di Yard PT. Indotruck Utama sebagaimana yang tertera dalam Perjanjian Jual Beli (PJB).

“Dapat kita duga bahwa transaksi ini penuh rekayasa. Bagaimana mungkin suatu perjanjian dapat dirubah satu pihak? Bukan kah suatu perubahan dalam kesepakatan harus diketahu kedua belah pihak? Terus apa dasarnya PT. Indotruck Utama membatalkan perjanjian dan mengalihkan transaksi menjadi atas nama Arwan Koty dari semula atas nama Alfin tanpa ada persetujuan bersama? Inikan aneh!” ungkap Wili.

Ada sejumlah kejanggalan dalam proses pembelian 1 unit Excavator merk Volvo EC-350DL seharga Rp.2,360 miliar dari PT. Indotruck Utama.

Dalam PJB disebutkan bahwa serahterima unit dilaksanakan di Yart PT. Indotruck Utama apabila pembayaran sudah lunas. Namun setelah pembayaran lunas dalam dua kali pembayaran oleh Alfin, serahterima unit tidak pernah terlaksana.

Namun dalam bantahannya PT. Indotruck Utama mengaku sudah menyerahkan unit itu dan bahkan sudah dikirimkan ke alamat sesuai dengan permintaan Alfin.

Menurut Wili Brodus bahwa kliennya belum pernah diundang untuk serah terima unit. Dan dokumen yang ditunjukan pihak PT. Indotruck Utama sebagai dokumentasi bukti bahwa sudah dilaksanakan serahterima di sidang BPSK, sangat diragukan. Karena bukti itu tidak dilengkapi dengan lokasi dimana unit diserahkan dan siapa yang menerima unit. Konon katanya perwakilan. Siapa yang mewakilkan tidak jelas.

Kemudian ada lagi dokumen pengalihan yang dilakukan sepihak oleh PT. Indotruck Utama. Terkait pengalihan atas nama pembeli dari Alfin ke atas nama Arwan Koty. Pengalihan itu tidak pernah disetujui pihak Alfin, namun ada dokumen yang tidak ada tandatangan dan stempelnya. Dokumen yang ditunjukan yang tidak ada tandatangan dan stempel itu dibuat menjadi barangbukti.

Oleh karena itu, Pihak Alfin/Arwan Koty meminta refund atau pengembalian dana yang sudah dibayarkan.

“Terhadap pembelian barang Excavator, kita mintanya refund karena barang itu sampai persoalan ini kita limpahkan ke BPSK, belum diserahterimakan.” Terang Wilibrodus Ardi Mau.

Terkait berita ini pihak PT. Indotruck Utama belum dikonfirmasi.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply