Advokat Albert Tiensa Divonis 1 Tahun, JPU: Putusan Hakim Tidak Mempertimbangkan DPO

Pinterest LinkedIn Tumblr +

RadarOnline.id, JAKARTA – Ketua Majelis Hakim Suharso, SH, MH menjatuhkan hukuman 1 tahun pidana penjara terhadap terdakwa I Silvi Hartanto dan terdakwa II Albert Tiensa karena telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 263 ayat (1) KUHP ‘Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu” di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl. Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (22/10).

” Karena dakwaan primer Jaksa Penuntut Umum (JPU) telah terbukti maka dakwaan subsider tidak perlu lagi dipertimbangkan. Oleh karena dakwaan JPU itu telah terbukti maka pledoi dari terdakwa maupun pledoi dari penasehat hukum terdakwa tidak lagi dipertimbangkan atau dikesampingkan,” ujar Ketua Majelis Hakim Suharso, SH, MH dalam amar putusannya.

Putusan hakim itu lebih ringan 1,5 tahun dari Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Maidarlis, SH dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta yang telah menjatuhkan Tuntutan hukuman 2 tahun dan 6 bulan pidana penjara, karena Terdakwa Albert Tiensa dan Terdakwa Silvi Hartanto telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melanggar Pasal 263 ayat (1) KUHP.

Terdakwa Advokat Albert Tiensa, SH, MH telah menyuruh  saksi F.X Benny Kusuwarto membuat (mengetik) Surat pernyataan yang isinya Palsu tertanggal 14 April 2015 di Kantor terdakwa II Albert Tiensa SH, MH.

Kemudian terdakwa Albert Tiensa membawa surat pernyataan tanggal 14 April 2015 yang dibuat saksi FX Benny itu ke Kelurahan Paseban, Kec Senen, Jakarta Pusat dan menemui saksi Piping Mulya Pribadi (staf kelurahan).

Atas permintaan terdakwa ll Albert Tiensa SH, MH, Piping Mulya Pribadi menandatangan surat pernyataan itu disaksikan Terdakwa I Selvi Hartanto.

Dan surat pernyataan 14 April 2015 yang ditandatangani Piping Mulya Pribadi itu dipergunakan terdakwa advokat Albert Tiensa sebagai bukti dalam perkara saksi Lina Miranti yang saat itu terdakwa dalam dakwaan Pasal 167 KUHP, sebagai klien advokat Albert Tiensa.

Karena surat pernyataan tanggal 14 April 2015 itu dijadikan bukti pada perkara Lina Miranti dalam dakwaan Pasal 167 KUHP itu, maka Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan putusan Onslah.

Atas digunakannya surat pernyataan tanggal 14 April 2015 yang ditandatangani Piping Mulya Pribadi itu pada Perkara terdakwa Lina Miranti itu dan putusan menjadi onslah, saksi pelapor Rivan Hartanto melaporkan Piping Mulya Pribadi Kepolda Metro Jaya atas penandatanganan surat pernyataan tanggal 14 April 2015 yang ditandatangani Piping Mulya Pribadi itu.

Dalam amar putusannya, Ketua Majelis Hakim Suharso juga menyebutkan: “Piping Mulya Pribadi adalah korban dari terdakwa Albert Tiensa. Piping Mulya Pribadi telah dihukum 1 tahun dan 6 bulan pidana penjara dan dipecat dari PNS serta tidak mendapatkan tunjangan hari tua karena telah menandatangani surat pernyataan tanggal 14 April 2015. Oleh karena tidak ada yang dapat menghapus perbuatannya itu, maka harus dijatuhi kepadanya hukuman 1 tahun pidana penjara,” ujarnya.

Jaksa maupun kuasa hukum terdakwa tidak sependapat dengan pola pembacaan putusan hakim itu.

JPU cukup keberatan atas putusan hakim menjatuhkan hukuman 1 tahun pidana penjara. “Putusan hakim 1 tahun itu kontraproduktif dengan pertimbangan. Hakim mengatakan sependapat dengan JPU. Tapi hukuman yang dijatuhkan sangat kontras. Bagaimana mungkin hukuman seorang yang dikorbankan lebih tinggi dari seorang yang mengorbankan. Inikan jadi putusan aneh. Seharusnya minimal sedikit lebih tinggi. Disamping itu, pertimbangan majelis tidak ada yang memberatkan. Padahal terdakwa Advokat Albert Tiensa masuk DPO sebelum dilimpahkan ke penuntutan,” tegas Maidarlis.

Sementara kuasa hukum terdakwa Selvi Hartanto, Adji SH mengatakan sangat kecewa kepada Majelis Hakim. “Seharusnya majelis hakim mempertimbangkan pledoi yang kita ajukan. Semua pertimbangan majelis adalah yang didakwakan JPU. Trus gimana fungsi pledoi kita. Klien kita itu adakah korban dari terdakwa Albert Tiensa. Seharusnya majelis Mempertimbangka pledoi kita,” ucap Adji Tubagus, SH.

Dia tidak mempersoalkan hukuman yang dijatuhkan kepada kliennya. Tapi cara atau etika hakim membacakan putusan tidak pas, dan mengecewakannya.

Hal yang sama juga dilontarkan kuasa hukum terdakwa Albert Tiensa, Novianti. Menurutnya, Piping Mulya Pribadi dihukum karena mencabut pernyataannya sendiri. “Kita sudah membuat pledoi yang baik dan benar, eh, tidak menjadi pertimbangan majelis, jadi apa dong fungsi kita? Putusan itu kopi paste dari surat Tuntutan JPU,” tukas Novianti, SH.

Sementara terdakwa Albert Tiensa mengatakan kecewa terhadap putusan hakim. “Piping Mulya Pribadi mencabut pernyataan tanggal 14 April 2015, makanya dia dihukum. Setelah itu urusan surat pernyataan tanggal 14 April 2015 itu sudah habis. Harusnya saya bebas,” ujar Albert Tiensa.

THOMSON

Share.

About Author

Leave A Reply